“Siri bongkok bukan sekadar kayu biasa; tiang yang kuat dan tinggi menggambarkan kekuatan orang Manggarai dan menunjukkan bahwa di rumah gendang ada satu pimpinan, satu komando, satu penggerak untuk menjaga kesatuan,” jelasnya.
Wabub Fabi juga menegaskan rumah gendang bukan hanya bangunan fisik, melainkan pusat musyawarah dan kerukunan, tempat dimana warga belajar untuk saling menghormati orang tua dan mendengar satu sama lain.
Ia berharap, setelah selesai, rumah Gendang tersebut nantinya bukan hanya menjadi pusat aktivitas adat, tetapi juga menjadi simbol spiritual yang merepresentasikan hubungan manusia dengan Sang Pencipta, dilambangkan secara simbolis melalui tiang utama yang menjulang tinggi ke atas.
Sementara, anggota DPRD Provinsi NTT dari Fraksi PAN, Jimur Siena Katrina, menilai ritus tersebut bukan sekadar seremoni, tetapi simbol kekuatan identitas dan persatuan masyarakat Manggarai.
Sebagai bentuk dukungan nyata, dirinya memberikan bantuan pribadi berupa 200 lembar seng dan sejumlah paku untuk pembangunan rumah Gendang Lando. “Sesuai dengan permintaan yang disampaikan secara langsung oleh masyarakat di setiap Gendang, saya berusaha membantu sesuai kemampuan,” ungkapnya.
Dukungan serupa juga disampaikan Kepala Desa Bangka Jong, Ferdinandus Ampur. Ia menegaskan, baik sebagai pemerintah desa maupun sebagai bagian dari masyarakat Gendang Lando, dirinya sangat mendukung pembangunan rumah Gendang ini.
Menurutnya, prosesi ritus adat Roko Molas Poco merupakan peristiwa yang sangat langka dan bernilai tinggi. “Jadi di usia kami, baru terjadi hal seperti ini, sehingga kehadiran masyarakat untuk menyaksikan sekaligus untuk belajar prosesi roko molas poco,” kata Kades Ferdi.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







