Revitalisasi Mbaru Gendang Mulai Dirasakan, Bupati Hery Nabit Hadiri Ritus Adat We’e Mbaru Gendang Rai

Selain itu, disampaikan pula jenis dan jumlah hewan kurban yang dipersiapkan dalam upacara adat. Dalam tradisi Manggarai, hewan kurban memiliki makna simbolis sebagai persembahan dan ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta penghormatan kepada para leluhur.

Setelah penyampaian Kari atau Rahi, acara dilanjutkan dengan tanggapan dari berbagai pihak yang hadir. Melalui tuturan adat, mereka menyatakan menerima dan mendukung sepenuhnya pelaksanaan Ritus Adat We’e Mbaru Gendang. Dukungan tersebut diwujudkan dalam bentuk kontribusi hewan kurban maupun partisipasi lainnya sesuai kemampuan masing-masing.

Dalam tradisi adat Manggarai, bentuk dukungan tersebut tidak ditentukan jumlahnya, melainkan didasarkan pada ketulusan, rasa persaudaraan, dan tanggung jawab bersama terhadap keberlangsungan kehidupan adat dalam Gendang Rai. Prosesi ini mencerminkan kuatnya semangat gotong royong dan solidaritas yang masih terpelihara dalam kehidupan masyarakat Manggarai.

Bupati: Adat We’e Mbaru bukti Revitalisasi Bermanfaat

Pada kesempatan tersebut, Bupati Hery Nabit menyampaikan bahwa pelaksanaan ritus adat We’e di berbagai kampung adat merupakan bukti bahwa Program Revitalisasi Mbaru Gendang telah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Ketika Mbaru Gendang kembali berdiri dan digunakan melalui ritus adat seperti We’e, maka yang hidup bukan hanya bangunannya, tetapi juga nilai-nilai budaya, semangat persaudaraan, gotong royong, dan identitas masyarakat Manggarai yang diwariskan oleh para leluhur,” ujar Bupati.

Menurut Bupati, Mbaru Gendang bukan sekadar bangunan fisik, melainkan pusat kehidupan masyarakat adat yang menjadi tempat bermusyawarah, menyelesaikan persoalan bersama, melaksanakan ritus adat, serta memperkuat ikatan persaudaraan antarwarga.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel