Kendati demikian, Bupati Hery menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Kementerian Kesehatan yang dengan sigap membangun rumah sakit lapangan di Ruteng. Fasilitas darurat tersebut kini sudah mulai berfungsi dengan dibantu oleh para dokter relawan ahli ortopedi dan bedah.
Bupati juga memaparkan bahwa wilayah utara Kabupaten Manggarai menjadi zona paling parah terdampak, mengingat episentrum gempa berada di wilayah tersebut, yang merusak rumah warga, fasilitas umum, sekolah, rumah ibadah, hingga fasilitas kesehatan.
Terkait dinamika penyaluran bantuan di lapangan, Bupati Hery mengakui bahwa jumlah logistik yang masuk kerap kali belum mencukupi kebutuhan seluruh pengungsi yang diperkirakan mencapai puluhan ribu jiwa. Tantangan psikologis masyarakat di pengungsian adalah perasaan bahwa setiap orang berhak mendapatkan bantuan, sementara alokasi harus disesuaikan dengan tingkat kerusakan rumah (berat, sedang, ringan).
“Jadi kalau pembagian jatah beras, kita alokasikan jatah beras berdasarkan jumlah, tetapi di lapangan Bapak-Bapak kepala desa harus membaginya merata. Kenapa? Karena semuanya terdampak. Kalau ada yang bicara tidak cukup atau belum mendapatkan bantuan dan lain-lain, itu sebenarnya lebih kepada jumlah yang kurang. Tidak untuk mencari kesalahan orang lain, kesalahan itu tetap pada kami yang di lapangan”
Kunjungan kerja strategis ini turut dihadiri oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Sekretaris Daerah Manggarai Lambertus Paput, Kepala Dinas P3A Kabupaten Manggarai Maria Yasinta Aso, para mitra pembangunan, serta rombongan resmi Kementerian PPPA. Sinergi pusat dan daerah ini diharapkan mampu mempercepat pemulihan Kabupaten Manggarai pasca-gempa secara komprehensif.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











