Situasi mencekam saat itu, karena Kampianus Jebarus dan teman-temannya secara brutal ingin mencari Kasianus Pan dan Wilhemus di rumah pesta.
“Mereka ingin masuk ke rumah dan saya menghadang mereka masuk. Yang masuk ke rumah adik saya bernama Kampianus Jebarus,” jelas Kasianus Pan.
Selanjutnya, kisah Kasianus, karena tidak bisa masuk rumah, mereka lalu merusakkan jendela dan melempari rumah Wilhemus dengan batu hingga seng atap bolong.

“Mereka tidak bisa masuk karena saya menghadang di depan pintu rumah adik saya. Karena tidak boleh masuk, mereka lantas menendang jendela dan melempar rumah adik saya dengan batu,” pungkas Kasianus Pan.
Menurut Kasianus, Kampi Jebarus dan warga Tere yang menyerang rumah tidak diundang untuk mengikuti pesta sambut baru tersebut.

Kampi Jebarus dan kawan-kawan, lanjut Kasianus bahwa setelah melakukan aksi penyerangan itu langsung ke rumah RT desa Lungar. Dan, pada malam itu juga Kasianus Pan diminta agar menghadap ke rumah RT.
“Setelah kejadian penyerangan Kampianus dan kawan-kawannya, saya bingung kenapa RT desa Lungar memanggil saya. Padahal situasinya sangat panas sekali. Saya tidak mengahadap ke rumah RT pak, karena saya tahu Kampianus Jebarus dan kawan-kawannya berada di rumah RT,” ungkap Kasianus Pan.
Tidak menghadap pada malam hari kejadian, ketua RT juga meminta Kasianus agar bisa menghadap pada pagi harinya ke rumah RT. Tetapi Kasianus Pan lebih memilih untuk melaporkan kejadian penyerangan yang menimpanya bersama keluarga ke Polsek Satar Mese.

“Saya tidak mengetahui untuk apa mereka memanggil saya. Saya takut untuk keluar malam. Pada pagi hari mereka memanggil saya ke rumah RT, tapi saya lebih memilih ke Polsek Satar Mese untuk melaporkan pengeroyokan kepada saya. Dan juga, karena Kampianus Jebarus dan kawan-kawan menyerang rumah adik saya, Wilhelmus.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel
Tinggalkan Balasan