Di sisi lain, Karus juga menilai proses sosialisasi memberikan ruang bagi masyarakat untuk memahami manfaat dan risiko pembangunan, termasuk upaya meminimalkan dampak yang mungkin timbul.
Selain komunikasi mengenai proyek, perhatian terhadap keberadaan rumah adat menjadi hal yang berkesan bagi masyarakat Gendang Gonggor. Karus mengungkapkan, sebelum mendapatkan bantuan perbaikan dari PLN, kondisi rumah gendang membuat mereka merasa kehilangan sebagian identitas adat. Kini, setelah diperbaiki, rumah tersebut kembali dapat digunakan untuk berbagai pertemuan masyarakat.
“Sebelumnya, warna rumah gendang sudah tidak ada. Setelah bantuan ini datang, kami baru menyadari bahwa kami memiliki rumah gendang yang begitu modern. Sekarang rumah adat kami sudah bisa dimanfaatkan untuk pertemuan-pertemuan,” ungkap Karus.
Ia menjelaskan, kebutuhan akan rumah adat yang lebih luas sebelumnya juga disampaikan kepada PLN karena masyarakat kerap menggunakan rumah gendang untuk kegiatan sosialisasi dan pertemuan. Menurutnya, permintaan tersebut mendapat respons positif dari PLN.
“Kalau tanpa bantuan PLN, rumah gendang ini tidak akan jadi. Dengan PLN, perbaikan rumah gendang selesai sekejap mata. Kami bersyukur atas perhatian khusus yang diberikan kepada masyarakat adat,” lanjutnya.
Bagi masyarakat Gendang Gonggor, keberadaan rumah adat yang kembali layak digunakan tidak hanya berkaitan dengan kondisi bangunan, tetapi juga menyediakan ruang bagi masyarakat untuk berkumpul dan menjalankan kehidupan sosial. Perbaikan tersebut menjadi salah satu bentuk perhatian terhadap kebutuhan masyarakat yang hidup berdampingan dengan pengembangan infrastruktur panas bumi.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel









