Cepat, Lugas dan Berimbang

Parpol Terus Jajaki Cawapres Potensial

Meski tidak secara langsung menawarkan Yenny untuk menjadi pendamping Anies, Ali mengakui, putri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid itu memiliki bekal yang mumpuni untuk menjadi pemimpin di masa depan. Sebab, Yenny berpengalaman mendampingi dan belajar langsung dari Gus Dur dan mengimplementasikan pemikiran ayahnya mengenai pluralisme dalam aktivismenya saat ini.

Tak hanya itu, sebagai nahdliyin dan keturunan pendiri NU, Yenny memiliki modal sosial yang kuat. Merujuk hasil survei sejumlah lembaga, keterpilihan Anies di kalangan nahdliyin Jawa Timur dan Jawa Tengah masih perlu ditingkatkan. ”Yenny layak untuk mendampingi siapa pun. Kalau memang dia menjadi pilihan Anies, kami (Nasdem) tentunya dengan senang hati akan merespons itu,” ujar Ali.

Partai Gerindra yang telah memutuskan untuk mengusung ketua umumnya, Prabowo Subianto, untuk menjadi bakal capres juga menerima sejumlah usulan pendamping. Misalnya, Airlangga Hartarto dan Erick Thohir yang diajukan PAN, selain Muhaimin Iskandar, Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang sudah berkoalisi dengan Gerindra.

Cawapres Potensial

Ketua Harian Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad mengatakan, usulan dari beberapa parpol itu merupakan bagian dari dinamika penjajakan koalisi. Namun, untuk bergabung dalam koalisi, ada beberapa syarat yang dinegosiasikan.

Sementara secara terpisah, Kepala Departemen Politik dan Perubahan Sosial Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes mengatakan, bergulirnya pertemuan para tokoh potensial bakal cawapres dengan elite parpol dan koalisinya memperlihatkan bahwa partai tidak memiliki mekanisme seleksi kepemimpinan nasional. Parpol kesulitan untuk menentukan pasangan capres dan cawapres yang akan diusung, terlebih lagi untuk posisi cawapres.

Oleh karena itu, penentuan cawapres lebih dipengaruhi oleh proses lobi ke elite, juga kontribusi tokoh dalam kampanye dan logistik. ”Para tokoh potensial cawapres (pun) saya lihat ada kecenderungan untuk mencoba kemungkinan dan lobi-lobi dengan elite partai dari ketiga poros koalisi,” kata Arya.

Menurut dia, proses penentuan bakal cawapres saat ini krusial karena jarak suara antarbakal capres yang ada tak terpaut signifikan. Sehingga tak ada yang dominan secara elektoral. Lobi-lobi yang terjadi masih akan terus berlangsung hingga mereka mencapai kesepakatan. Adapun faktor yang mempengaruhi kesepakatan penentuan bakal cawapres di antaranya keberimbangan kekuatan parpol di koalisi. Sementara bakal cawapres non-partai biasanya akan dilihat dari kontribusi elektoral dan finansialnya kepada bakal capres.

Sumber: Kompas.as

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel