Sistem Kaderisasi Berkelanjutan
Menjadikan kaderisasi sebagai agenda prioritas, Nardi menekankan pentingnya standarisasi pembinaan yang terstruktur dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Ia memandang kaderisasi tidak boleh sekadar menjadi prasyarat formalitas keanggotaan administratif semata.
“Kaderisasi adalah jantung organisasi. PMKRI harus memiliki sistem kaderisasi yang terstruktur dan berkelanjutan. Kita harus memastikan setiap kader yang lahir dari rahim PMKRI memiliki integritas, kompetensi, daya kritis, dan jiwa kepemimpinan,” jelasnya.
Dorong PMKRI sebagai Laboratorium Intelektual
Dalam visinya, Nardi berkomitmen menghidupkan kembali budaya akademik di seluruh tingkatan kepengurusan PMKRI.
Tradisi membaca, berdiskusi, melakukan riset, hingga publikasi ilmiah akan kembali didorong menjadi identitas yang melekat pada diri setiap kader.
Ia menargetkan PMKRI menjadi sebuah laboratorium intelektual dan pusat perumusan gagasan yang mampu memproduksi rekomendasi kebijakan berbasis data.
Ekosistem ini nantinya akan menghubungkan potensi kader aktif, alumni, akademisi, serta kelompok masyarakat sipil untuk melahirkan gerakan sosial yang berdampak nyata bagi publik.
Mempertegas Peran Mitra Kritis dan Solutif
Menyoroti peran eksternal organisasi, Nardi menegaskan bahwa PMKRI harus konsisten mempertahankan independensinya sebagai mitra kritis pemerintah.
Namun, ia menggarisbahwi bahwa kritik yang dilayangkan harus naik kelas—bukan sekadar retorika aksi, melainkan kritik ilmiah yang menawarkan jalan keluar.
“PMKRI harus tetap kritis terhadap kekuasaan. Namun, kritik kita harus memiliki basis intelektual, data, dan tawaran solusi. Kita harus mampu menghadirkan rekomendasi kebijakan dan advokasi yang benar-benar menjawab persoalan masyarakat,” cetusnya.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











