Monogami dan Poligami (Bagian III)

Jumlah pria yang kembali dari medan perang biasanya lebih sedikit daripada ketika berangkat. Ini artinya, pasti akan ada banyak janda, maka menciptakan harem demi usaha mengembalikan jumlah pria dalam suku itu merupakan sebuah kiat pertahanan hidup bagi bangsa tersebut.

Melahirkan anak laki-laki dianggap sebagai peristiwa hebat karena itu menambah jumlah pria yang diperlukan untuk mempertahankan komunitas. Anak perempuan merupakan kekecewaan karena suku mana pun selalu memiliki kelebihan jumlah wanita. Begitulah keadaannya selama ratusan ribu tahun.

Sebagai tambahan, pria modern pun masih memiliki hipotalamus besar dan jumlah testosteron yang sangat banyak untuk memenuhi desakan kuno dalam hal menjadi ayah. Kenyataannya adalah, pria seperti pada umumnya hewan primata dan hewan menyusui lainnya, tidak bersifat biologis untuk cenderung monogami.

Sebuah industri yang berorientasi seks bagi pria menawarkan bukti yang berkaitan dengan kenyataan bahwa pria cenderung poligami. Segala pornografi, video erotis, prostitusi dan gambar-gambar porno di Internet, ditujukan bagi pria, dan menunjukkan bahwa walau dapat hidup dalam hubungan monogami, susunan otak mereka menuntut stimulasi mental poligami.

Harus dimengerti, bahwa ketika membicarakan dorongan pria untuk menjadi promiskus, kita sedang membicarakan kecenderungan biologi. Kami tidak menganjurkan perilaku promiskus atau memberikan dukungan bagi ketidaksetiaan. Kita kini hidup dalam dunia yang sama sekali berbeda daoam pengharapan dan permintaan kita.

Laman: 1 2 3 4

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses