“Full servicelah, pernah juga boss itu belikan jacket kulit asli buat bagi-bagi ke mereka ya. Mobil juga sering dipinjamkan. Karena dulu sesuai medan di sana yang parah boss pakai mobil derek, taft. Sering malah bagi-bagi THR ke mereka.”
Menurutnya, dalam beberapa kesempatan, di Ruteng perusahaan (Produsen Rokok murah yang berada di Pasuruan, Jawa Timur) itu jadi sponsor utama beberapa even kepolisian di Ruteng.
“Adik bisa carikan di internet, sepertinya masih ada itu beritanya. Dulu itu ada kicau mania di lapangan Motang Rua, ada motor sport di Lalong Tana Karot juga yang paling besar. Kemudian, ada audisi band lokal di kafe di Ruteng.”
Itu dulu, lanjut Bambang yang sponsorin ya bos rokok ilegal.
Bea Cukai Tutup Mata
Demikian Bambang melanjutkan, perlakuan serupa juga kepada pihak Bea Cukai, Full Service. “Dulu kantor Bea Cukainya di Maumere, tapi wilayah kerjanya sedaratan Flores itu.”
Jadi kalau mereka ke mana-mana di Flores selalu telephon. Kalau sudah ditelephon ya berarti uang kluar kita biayai mereka. Urusin hotel, makan, bensin juga.
Namun, kata dia bahwa hal itu tidak ada artinya asal bisnis rokok bisa jalan. Untungnya gede kan.
Ia menambahkan, manakala mereka hendak turun itu pasti diinformaskan lebih dulu, sehingga anak-anak sales juga bisa kondisikan toko-toko grosir agar sementara BC turun pemeriksaan barangnya jangan pajang dulu.
“Itu kalau pita selendang semua ya, tapi kadang ada pita resminya itu yang buat pajangan etalase toko. Kalau periksa, ya ini barang ori, asli resmi.” Kisah Bambang.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel









