3. Agresi Pasif dan Gaslighting dalam Kolom Komentar
Kita sering melihat fenomena “kejamnya” komentar emak-emak saat mengkritik figur publik. Ini sering kali merupakan bentuk displacement (pengalihan beban emosi).
Dari tekanan domestik dialihkan menjadi agresi digital.
Mereka sering menggunakan teknik gaslighting sederhana seperti, “Saya kan cuma menasihati, kok kamu baper?” untuk membenarkan perilaku perundungan (cyberbullying) dengan kedok norma atau agama.
4. Efek Halo (Halo Effect)
Emak-emak cenderung sangat percaya pada figur yang terlihat religius atau keibuan. Dalam psikologi hitam, ini disebut pemanfaatan Efek Halo. Jika seseorang terlihat baik di satu sisi (misal: sering membagikan kutipan bijak), maka semua perkataannya dianggap benar, termasuk saat orang tersebut mempromosikan skema investasi bodong atau produk kesehatan yang tidak teruji.
Catatan Penting: Perilaku ini sebenarnya bukan muncul karena niat jahat, melainkan karena kurangnya digital literacy yang berbenturan dengan naluri protektif dan sosial yang sangat tinggi.
Media sosial telah menjadi medan tempur psikologis di mana emosi sering kali lebih berharga daripada logika. Bagi kelompok emak-emak, jempol mereka bukan sekadar alat komunikasi, melainkan kepanjangan tangan dari ego, rasa sayang, dan terkadang, keresahan yang tidak tersalurkan di dunia nyata.
Para Wanita harus tahu Pola ini, Agar tidak terjebak rasa!!
Pernah tidak, kamu tiba-tiba kepikiran seseorang tanpa alasan yang jelas? Padahal, gak ada kata cinta. Tak ada janji, tak ada sentuhan. Tapi entah kenapa, kamu mulai nunggu chat-nya. Mulai mikir, “Dia lagi ngapain ya?” Mulai ngerasa ada sesuatu padahal sebelumnya biasa aja.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel

Tinggalkan Balasan