Romo Dyonysius juga menyampaikan terima kasih kepada LSM Ayo Indonesia yang telah memfasilitasi kegiatan tersebut dan berharap para pastor paroki semakin siap memberikan pelayanan yang inklusif kepada seluruh umat.
Sementara itu, Direktur Yayasan Ayo Indonesia, Tarsi Humali, mengungkapkan bahwa per Juni 2025, terdapat 892 Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Kabupaten Manggarai yang tersebar di wilayah kerja 25 puskesmas. Angka ini terus meningkat setiap tahun, sementara layanan kesehatan mental masih sangat terbatas. “Saat ini, satu-satunya klinik rehabilitasi ODGJ di Manggarai, yakni Renceng Mose, hanya mampu menampung sekitar 30 pasien. Situasi ini menuntut adanya pendekatan baru yang tidak semata bergantung pada institusi seperti puskesmas dan klinik,” ujar Tarsi.
Sejak 2024, Ayo Indonesia telah mengembangkan program kesehatan jiwa berbasis komunitas di 16 desa, 3 kecamatan, dan menjangkau 7 puskesmas. Program ini mencakup pelatihan kader dan tenaga kesehatan, pendampingan ODGJ dan keluarganya, pembentukan kelompok swabantu, serta pembentukan Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM) tingkat kecamatan.


Menurut Tarsi, pendekatan komunitas lebih menekankan pada pemberdayaan lokal dan solidaritas sosial dalam proses pemulihan, bukan hanya tindakan medis.
Ia juga menegaskan bahwa Gereja memiliki peran strategis dalam isu ini, sebagai institusi spiritual dan sosial yang mampu membangun pemahaman, kasih, serta sistem dukungan bagi penyintas gangguan jiwa. “Dalam semangat belas kasih Kristus, Gereja dipanggil untuk hadir—mendengarkan tanpa menghakimi, mendampingi dengan kasih, dan mendorong pemulihan melalui komunitas,” katanya.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel
