Orang-Orang Penabur Angin

Written by

in

, ,

Oleh : Aji Priyo Utomo

infopertama.com – Di tengah kehidupan sosial saat ini sering kali terjadi kegaduhan, hal tersebut kerap ditimbulkan oleh mereka yang seolah tidak pernah benar-benar tenang sebelum menciptakan keributan.

Mereka berpindah dari satu percakapan ke percakapan lain, membawa bisik-bisik kecil yang tampak sepele, tetapi perlahan berkembang menjadi prasangka, pertengkaran, bahkan kebencian.

Mereka menabur angin tanpa merasa sedang menyebarkan sesuatu yang berbahaya. Padahal, tidak bisa dipungkiri dalam peristiwa konflik sosial seringkali memperlihatkan bahwa badai besar sering bermula dari hal-hal kecil yang terus ditiup dan dipelihara.

Hari ini, suara lebih mudah mendapat tempat dibandingkan makna. Orang berlomba menjadi pusat perhatian, pembawa kabar tercepat, atau penggerak opini paling ramai, meski kebenaran sering tertinggal jauh di belakang.

Dalam situasi seperti itu, manusia dapat berubah seperti angin, selalu tidak tampak bentuknya, tetapi terasa dampaknya. Ia menyusup ke ruang sosial, menggiring penilaian, membentuk kebencian, lalu pergi tanpa merasa perlu bertanggung jawab atas kerusakan yang ditinggalkan.

Falsafah Jawa sejak lama mengingatkan, “Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana.”

Kehormatan seseorang tercermin dari lisannya, sebagaimana penghormatan terhadap tubuh tampak dari caranya menjaga diri. Karena itu, ucapan dalam pandangan budaya Jawa bukan sekadar bunyi, melainkan cerminan batin.

Kata-kata yang ditebarkan kepada orang lain sesungguhnya memperlihatkan kualitas jiwa pemiliknya.

Laman: 1 2 3 4

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses