Kons Beo, SVD
infopertama.com – Masih mungkinkah rindu akan damai, cinta dan keadilan itu kembali bergelora membahana? Berterusteranglah kita. Kita lagi dibantai oleh banyak situasi ketakmenentuan.
Ini tentu bukan aura pesimistik yang sengaja dihembuskan. Bukan! Di peta dunia yang lebih luas, tataplah wajah bumi yang makin tersayat dan tercabik. Jadi memar oleh bencana alam, teror politik – keamanan, dan kegalauan ekonomi.
Apa semuanya itu mesti disebut suratan takdir? Bahwa bencana tak mungkin terhindarkan? Kita masih miliki ‘hati kotor dan kaki-tangan jahil’ untuk apapun yang suram dan seram.
Kita sepertinya pasrah pada ‘dogma kaum puritan’ bahwa dunia ini adalah memang lahan dosa. Dan lebih menakutkan lagi bahwa ‘tabiat baik dan buruk dalam individu sepertinya hidup normal. Terasa biasa-biasa saja.’ Mesrah bergandeng tangan! Sambil hormati sisi kedaulatan masing-masingnya.’
Dari mimbar-mimbar suci dilantangkanlah puisi cinta, didaraskanlah syair tobat, dan dilantunkanlah gema perdamaian. Namun, di alam nyata apa yang terjadi? Kita saling semburkan liur sindiran, gertak digelontorkan, dan tinju dikepalkan serta mata dipelototkan!
Dari sepetak 47.000 meter persegi Lapangan St. Petrus di Roma, dari balik jendela atau pun dari podium utama, ada seruan penuh harapan akan Kasih, Keadilan dan Perdamaian. Lantang terucap. Namun, Ukraina dan Gaza tetap saja babak belur. Timur Tengah masih gelora membara. Ini belum terhitung lagi pada segala aksi teror dan kekerasan sporadis di sana-sini.
Mari telisik ‘ke dalam tubuh kita sendiri sebagai bangsa, pun sebagai insan beriman. Kita pasti harus tetap belajar untuk perangi diri sendiri. Demi menata citra kebersamaan. Menggusur benci, dendam dan iri. Demi jadi terhormat dan bermarwah dalam fakta kebhinekaan. Dalam keniscayaan kamajemukan itu.
Terdengar suara alam Tanah Air. Mari sudahilah sudah ribut-ribut tempias hanya untuk ngurusin ‘soal palsu atau asli ijasahnya Pak Jokowi dan Wapres Gibran.’ Ada sisi kemanusiaan yang masih merintih tergerus bencana banjir badang, tanah longsor di sana-sini. Serta lengkingan suara ratap tangis menjerit karena ketidakadilan akibat gelombang permainan hukum yang makin tak senonoh.
Dan lagi?
Serasa kita masih gemetaran tak berakar kokoh pada iman dan keyakinan dalam agama kita sendiri. Itu ternyatakan ketika dalam ‘ukuran punya kita sendiri’ kita mendepak siapapun ‘yang bukan kita, yang tak sejalan dan tak searah.’ Dan terciptalah relasi peyoratif dalam ornamen diksi haram jadah, kafir, sesat.
Satu sentilun menggelitik pernah terdengar, “Di tanah air, lagu Gereja Tua yang diliris Panbers di tahun 1970-an itu, masih saja dinyanyikan hingga kini. Soalnya jelas. Untuk urus ‘Gereja Muda, iya maksudnya untuk buat ‘Gereja Baru’ ijinannya berlapis, sulit dan berlarut-larut. Maka biarlah tetaplah bersyair Gereja Tua…”
Dan masih lagi…?
Sepertinya kita lagi bertempur sengit dengan senjata dan amunisi-amunisi apologetik iman. Demi hanya saling mengincar titik-titik rawan dan lemah masing-masing. Kita sekian sulit berdiam hening dan berakar pada tradisi keimanan kita masing-masing. Suara menggelegar, dan makin banyak klaiming penuh pembenaran jelaslah bukanlah jadi tujuan keberimanan.
Kita pasti maklum. Saat Yesus memasuki kota Yerusalem, Ia sesungguhnya masuk dalam kisah-kisah hidupNya yang paling mendalam. Dialah Raja Damai dalam lambaian daun palma dan keledai tunggangan. Ia masuk kota Yerusalem dalam semangat pemberian diri. Hidup yang tak gentar pada kematian penuh pengorbanan. Itulah jalan hidup yang mesti mengarah pada Salib dan Puncak Golgota.
Yesus tak masuk ke dalam kota Yerusalem dengan seruan provokasi yang menghancurkan. Tak dengan bala pasukan yang siap menerjang lawan. ‘Tak ada saling gempur setara ‘baku hajar’ antara kendali Washington – Tel Aviv versus kendali Teheran di hari-hari belakangan ini.
Yesus memasuki Kota Yerusalem sungguh sebagai Pangeran Perdamaian.
Dari kesakralan Kisah hari ini, semua kita belajar untuk menjadi pejuang dan duta-duta Perdamaian:
- Untuk meletakkan segala jenis senjata kekerasan. Menggantikannya dengan semangat karikatif, cinta dan belaskasih.
- Untuk menggantikan apapun kata dan kalimat yang ‘membunuh,’ merendahkan, menyudutkan, yang berkiblat pada ketidakadilan, menuju kata dan seruan penuh harapan, yang bangkitkan semangat kehidupan, memanggil pulang yang terasing, dan tak putus asa untuk menuju masa depan ceriah
- Untuk segera mengubah jari-jari tangan egoistik penuh ketidakadilan dan keserakahan menuju genggaman jemari baru dalam nafas dan spirit ketulusan bergandeng tangan, bersolider dan bekerja sama.
- Untuk padamkan nafsu penuh agresif, buas dan liar terhadap alam raya. Iya, terhadap udara, tanah, air, samudra, flora dan fauna. Semuanya mesti menuju keanggunan Bumi Rumah Tinggal Kita Bersama
Akhirnya..
Saatnya nanti kita lambaikan daun-daun Palma, ingatlah dan doakanlah semua saudaramu siapapun. Semua mereka yang tak putus asa berjuang, berkorban demi Cinta, keadilan, perdamaian dan keutuhan alam.
Verbo Dei Amorem Spiranti.
Collegio San Pietro – Roma
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel



