Cepat, Lugas dan Berimbang

Arsen, Bocah Viral Sepatu Sobek di Manggarai Penerima PIP Reguler Sejak November 2025

Ruteng, infopertama.com – Marselinus Beke, akrab disapa Arsen, siswa kelas 1 SDI Golo Lambo, kecamatan Satar Mese, Manggarai kini menjadi buah bibir nasional. Bukan karena prestasinya, bukan juga karena melakukan kejahatan. Ia jadi buah bibir karena mengenakan sepatu sekolah dengan kondisi sobek.

Praktis, sepatu yang tampak video viral hanya bagian atas saja. Bagian bawahnya, sudah hampir hilang. Seakan, sepatu yang bagi banyak orang sebagai alas kaki, bagi Arsen, hanya sebagai penutup kaki agar tetap kelihatan bersepatu.

Keberadaan Arsen seakan membuka mata semua anak bangsa, berbagai pertanyaan dituangkan dalam ragam komentar di media sosial, mulai dari kondisi ekonomi keluarga, peran pemerintah, peran sekolah dan banyak pihak.

Menjawabi ragam pertanyaan itu, infopertama.com berkesempatan menemui Tomas Aquino Jemahan, S.pd, Kepala SDI Golo Lambo di Ruteng, Kamis, 19 Februari 2026.

Menurut Tomas, Arsen merupakan bungsu dari 6 bersaudara, anak ketiga dari istri ketiga, mama Flora yang diketahui berasal dari Bajawa. Kakak perempuannya, juga siswa kelas IV di SDI Lambo, sementara kakak sulung, laki-laki sudah putus sekolah dan kini sedang berada di Bajawa, Kabupaten Ngada.

Arsen sendiri, kata Tomas Jemahan sudah terdaftar sebagai penerima Program Indonesia Pintar (PIP) Reguler Sejak November 2025. Kakak perempuannya, yang di kelas IV juga sebagai penerima PIP. Namun, besaran uang yang diterima berbeda antara penerima kelas rendah dan tinggi.

Orangtua Arsen, jelas Tomas adalah petani dengan penghasilan pas-pasan. Ayahnya, pekerja kebun dan tinggal di kebun. Sementara ibu, selama ini jadi satu-satunya perempuan di Golo Lambo yang bisa panjat pinang. Kemampuan panjat pinang ini juga sebagai sumber penghasilan buat Flora jika dipakai warga memanjat pinang.

Selain dari bertani, keluarga Arsen jelas Tomas, seturut pengakuan Mama Flora juga sebagai penerima program keluarga harapan (PKH) yang sampai hari ini sudah tiga (3) kali menerima.

Masuk SD tahun 2025

Demikian Tomas, bahwa Marselinus Beke alias Arsen resmi menjadi murid baru di SDI Golo Lambo sejak 2025. Sebagaimana biasanya, para guru menggali beberapa informasi penting tentang siswa dan latar belakang keluarga. Mulai dari ukur tinggi badan, berat badan dan beberapa data dukung lainnya, termasuk penghasilan bulanan orangtua.

Dari pendataan awal, jelas Tomas, tuk penghasilan bulanan memang tidak jelas, tidak tentu. “Itu menurut keterangan Mama Flora.” Ujar Tomas, Kamis.

Ia menambahkan, “Sebagai siswa baru di SDI Golo Lambo, data Arsen masuk ke Dapodik. Puji Tuhan, sejak November 2025 ia termasuk salah satu penerima Beasiswa PIP dengan besaran Rp225.000. Sementara Kaka perempuannya Arsen, di kelas IV terima PIP dengan nominal Rp450.000. Utuh, tidak ada potongan seperti yang berkembang di luar sekarang.”

Berpakaian Lusuh sejak Awal, Tomas Bantu Belikan Baju dan Tas Baru

Masih menurut kisah Tomas, Arsen memang sejak kali pertama bertemu saat mendaftar sudah mengenakan kaos lusuh. Ketika itu, karena pertemuan pertama, Tomas dan guru-guru belum menaruh perhatian lebih, sebab bisa jadi ia datang sehabis bermain dan belum sempat ganti pakaian.

Saat mulai sekolah, kisah Tomas, bahwa meskipun SDI Golo Lambo ini di kampung, tidak berarti harus kalah style dengan di kota. Karenanya, sekolah menegaskan agar semua siswa harus berpakaian rapi, sepatu, lengkap dengan tas.

Arsen sejak itu jadi pusat perhatian, ia tampil beda sendiri. Seragamnya lusuh. Bukan seragam baru. Kondisi ini menggerakkan rasa kemanusiaan Tomas, juga para guru di SDI Lambo.

Saat itu, cerita Tomas, ia menghampiri Arsen. Menyemangatinya agar tidak berkecil hati karena penampilannya yang beda sendiri.

“Sejak itu, saya dan para guru berusaha menggali lebih jauh kondisi ekonomi keluarga Arsen. Saya dan guru-guru mulai semakin sering berkunjung ke rumahnya. Satu hal yang buat saya dan teman-teman guru nyesak adalah saat mama Flora bilang ke kami, bahwa memang dia terima PKH, tetapi antara seragam baru dan isi perut saya lebih pilih isi perut Arsen dulu baru kalau ada rejeki, beli baju (seragam) baru.”

Kondisi Arsen dan keluarganya, sepulang berkunjung, Tomas lalu ceritakan lagi ke istrinya. Gayung bersambut, sang Istri meminta Tomas agar segera membantu, membelikan pakaian seragam baru dan beberapa perlengkapan Arsen ke sekolah.

Bantuan pertama, Tomas dibantu Bendahara secara patungan belikan Arsen satu set seragam.

“Kami gunakan uang pribadi. Awalnya, saya tanya ke bendahara apakah bisa menggunakan dana bos tuk keperluan Arsen. Namun, kata Bendahara itu tidak bisa, tidak ada juknisnya. Kalau ambil dana bos, tentu melanggar hukum. Sehingga, saya dan bendahara patungan tuk belikan Arsen seragam.” Ujar Tomas berurai air mata.

Sepatu Sobek Awal Januari

Kisah Arsen dengan sepatu sobeknya mulai terungkap sejak hari kedua sekolah tahun 2026. Tepatnya, pada 6 Januari 2026.

Saat itu, berbarengan dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDI Golo Lambo.

Kepala SDI Golo Lambo, Tomas Jemahan, ketika itu melakukan breafing dari kelas ke kelas. Ketika breafing di kelas I, Tomas secara tidak sengaja melihat Arsen lari kejar-kejaran dengan temannya. Saat lari itu, Tomas melihat kondisi sepatu Arsen. Ia lalu memanggilnya dan dibawa ke ruang kepala sekolah. Di sana, Tomas meminta Arsen tuk memvideokan kondisi itu (Cek Video Viral) tuk dokumentasi pribadi sekolah, juga tuk dia tunjukkan ke istrinya di rumah.

Setelahnya, saya kirimkan video itu ke istri berharap mendapat persetujuan agar bisa belikan Arsen sepatu baru. Video itu mendapat respon positif dari istri Tomas, dengan emoticon menangis, istri Tomas membalas, “Ya, kalau bisalah besok kita bantu seadanya, ya. Kita cari sepatu yang murah saja itu. Sambil menanti ya, siapa tahu ada yang berbelaskasih gitu, teman-teman yang lain.”

Tak berhenti pada komunikasi WA, sepulang rumah, Tomas menunjukkan video itu ke anak-anaknya. Nana, kamu nonton video ini ya, kondisi salah satu murid di sekolah.

Anak bungsu Tomas, yang kebetulan juga kelas I SD, usai menonton itu langsung menangis, ikut sedih dengan kondisi Arsen. Ia lantas mengumpulkan beberapa pasang sepatu dalam kantong plastik. Sambil bilang ke saya, Papa, ini saya bawa besok ke sekolah, buat Arsen. Tapi, saya (Tomas) bilang, nak jangan. Tidak baik kasih barang bekas ke orang. Sampai-sampai, dia ambil tas barunya buat kasih ke Arsen, tapi saya bilang jangan.

Sore harinya, Tomas dan anak saya pergi ke salah satu kios yang ada jual sepatu. Dicoba ke kaki anaknya yang kurang lebih tingginya hampir sama, akhirnya Tomas membelikan sepatu baru tuk Arsen. Meski harganya murah, yang penting Arsen bisa mengenakan sepatu yang layak.

Keesokannya, Tomas kembali menemui Arsen. Arsen dipanggil ke kantor tuk diberikan sepatu. Pemberian sepatu ini tidak dilakukan di kelas, hanya di ruang kepala sekolah antara Tomas dan Arsen.

Video Arsen Posting di Medsos

Video kondisi Arsen bersepatu sobek baru diposting ke media sosial beberapa hari setelahnya.

Video ini awalnya hanya ada di ponsel milik Tomas, namun, kemudian ia kirimkan ke Tini Pasarin dan satu lagi ke anak yang pulang libur dari Jakarta.

“Saya sebenarnya tidak mau kasih, tidak untuk pansos. Setelah mereka meyakinkan saya bahwa tujuannya baik, tuk tujuan positif karena pemerintah belum bisa menjangkau semua, maka kita punya peran untuk menyodorkan itu ke permukaan. Kebetulan, Tini ini juga sering bergerak di bidang ini (penggalangan donasi) sehingga saya beranikan diri memberikan kepada Tini.”

Besoknya, jelas Tomas, kisah Arsen ini muncul di Instagram sa.floresss. Dari sana, kemudian menyebar luas hingga ikut dikomentari Susi Pudjiastuti di akun X-nya.

Kekinian, jelas Tomas, lewat gerakan (donasi) enu Tini ada terkumpul Rp2.600.000 dan sedang dalam perjalanan beberapa pasang sepatu tuk Arsen.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN