Ruteng, infopertama.com – Puskesmas La’o terus mengintensifkan layanan kesehatan berbasis lingkungan melalui program-program terintegrasi, dengan fokus pada pencapaian lima pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Langkah ini menjadikan Puskesmas La’o sebagai yang pertama di Kabupaten Manggarai yang siap mengukuhkan pencapaian kelima pilar STBM secara menyeluruh.
Penanggung jawab program kesehatan lingkungan UPTD Puskesmas La’o, Fransiskus Indrawan Sekera, menjelaskan bahwa implementasi program STBM mencakup berbagai layanan terpadu. Di antaranya pengawasan sanitasi lingkungan, promosi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), pengelolaan air minum dan sanitasi, pengendalian vektor penyakit, edukasi dan pelatihan masyarakat, serta survei dan pelaporan kondisi lingkungan secara rutin.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa pengawasan sanitasi lingkungan dilakukan melalui pemantauan langsung di sejumlah fasilitas umum seperti sekolah, pasar dan rumah makan. Pemeriksaan difokuskan pada aspek pengelolaan sampah, ketersediaan air bersih, serta keberadaan dan kelayakan jamban sehat. “Kita melakukan pengawasan di sekolah, pasar dan restoran untuk memastikan standar sanitasi terpenuhi,” ujarnya, Senin, (8/12/2025).
Fransiskus menerangkan, para petugas juga gencar mempromosikan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) melalui edukasi dan penyuluhan langsung kepada masyarakat tentang pentingnya mencuci tangan pakai sabun, menghentikan kebiasaan buang air besar sembarangan, serta mengelola air minum di tingkat rumah tangga.
Sementara, untuk menjamin kualitas air yang dikonsumsi, pihaknya juga secara rutin melakukan uji kualitas air minum di tingkat rumah tangga. Selain itu, pengendalian vektor penyakit seperti nyamuk, tikus, dan hewan penular lainnya dilakukan secara terukur melalui fogging atau penyemprotan insektisida di titik-titik rawan, sebagai langkah preventif penyebaran penyakit.
Ia menambahkan, tahun ini petugas Puskesmas telah melakukan survei terhadap kualitas air di 30 rumah tangga sebagai bagian dari pengawasan kualitas pengelolaan makanan dan minuman. Sampel yang diambil mencakup air yang telah dimasak maupun yang belum dimasak, untuk selanjutnya diuji secara mikrobiologi – meliputi warna, bau, dan rasa serta dilakukan juga pemeriksaan kimia terbatas.
Apabila ditemukan kandungan bakteri atau unsur kimia yang tidak memenuhi standar, hasil pemeriksaan tersebut akan ditindaklanjuti langsung ke rumah tangga bersangkutan guna memberikan edukasi dan perbaikan kualitas air konsumsi mereka. “Hasil pemeriksaan difollow up kembali ke rumah tangga yang bersangkutan untuk memperbaiki kualitas airnya ketika ditemukan adanya kandungan bakteri do dalam air atau kandungan kimia yang tidak memenuhi standar,” kata Fransiskus.
Selain melakukan pengawasan, tim puskesmas juga aktif menggelar pelatihan dan pendidikan masyarakat yang mencakup pelatihan kader kesehatan lingkungan serta penyuluhan tentang sanitasi di sekolah-sekolah dan berbagai komunitas. Survei lingkungan juga dilakukan secara berkala dengan pengumpulan data sanitasi yang kemudian dilaporkan ke Dinas Kesehatan untuk langkah lanjutan.
Ia menyebut, tiga pilar pertama telah berhasil dijalankan secara maksimal, sementara dua pilar terakhir masih terus didorong karena cakupan pelaksanaannya masih di bawah 75 persen.
Dukungan lintas sektor sangat diharapkan, termasuk dari tokoh agama, lembaga swadaya masyarakat, dan seluruh lapisan masyarakat, agar program STBM dapat berjalan maksimal. “Kami terbuka bekerja sama dengan NGO untuk mendorong percepatan capaian lima pilar STBM,” tambahnya.
Sementara, pengawasan pengelolaan makanan dan minuman di tingkat rumah tangga dilakukan melalui survei kualitas air. Tahun ini, Puskesmas La’o telah mengambil 30 sampel air dari rumah tangga, baik air yang sudah dimasak maupun belum. Sampel tersebut kemudian diuji secara mikrobiologis dan kimia terbatas untuk memastikan aspek kebersihan, bau, rasa, dan warna.
Langkah ini menjadi bagian dari komitmen UPTD Puskesmas La’o dalam membangun masyarakat sehat melalui pendekatan preventif dan promotif berbasis partisipasi aktif warga.
Fransiskus menegaskan bahwa Puskesmas La’o sudah berhasil menjalankan pilar pertama hingga ketiga dalam program STBM, namun pilar keempat dan kelima masih menjadi fokus utama karena cakupan pelaksanaannya masih di bawah 75 persen.
Ia mengajak semua pihak, termasuk lintas sektor, tokoh agama, dan masyarakat umum, untuk bersama-sama mendukung penuh program ini. Dukungan dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) juga sangat diharapkan agar upaya peningkatan sanitasi ini berjalan lebih efektif. “Kami berharap Puskesmas La’o bisa menjadi yang pertama mendeklarasikan keberhasilan pelaksanaan lima pilar STBM secara penuh,” tutupnya.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel




