Bahkan lebih tajam mengatakan analisis ini miskin pandangan dan dasar berpikir. Sebab salah memilih pemimpin tidak hanya terjadi di masa Jokowi tetapi pada masa-masa sebelumnya.
Semua kesalahan yang terjadi adalah kesalahan kita semua bangsa Indonesia yaitu:
Pada saat saat genting kita terlalu permisif, gampang memaafkan. Bahkan lebih fatal sering menghindar dari masalah yang sedang membelit dan membahayakan “biarin saja – usah ikut ikutan, kita netral saja.”
Takut kepada penguasa sekalipun dzalim, bego, bodoh dan ugal ugalan, jangan melawan, takut resiko tidak kebagian, resiko benturan dan akibat tekanan lainnya.
Bahkan berdalih agama cepat menyerah bahwa semua kejadian telah menjadi takdirnya. Sebagai kawulo alit (rakyat kecil) harus manut mituhu (taat total) kepada penguasa.
Analisa di atas mengingatkan kita peringatan lama bahwa sebagian bangsa Indonesia masih berjiwa terjajah. Persis seperti yang Gubernur Jenderal De Jonge katakan di tahun 1930-an masih juga berkata, Belanda akan menjajah 300 tahun lagi. Lemahnya mentalitas bangsa ini yang mudah dipecah-belah adalah “bangsa yang paling lunak di dunia”.
Sun Yat Sen mengatakan Indonesia adalah bangsa yang tidak punya keinginan untuk membebaskan diri dari penindasan ibarat “a sheet of loose sand”. Bagaikan pasir yang meluruk dan rapuh. Tiada keteguhan, sehingga mudah ditiup ke mana-mana.
Apaka Bangsa Indonesia adalah bangsa yang tidak punya keinginan untuk membebaskan diri dari penindasan ibarat “A sheet of looses sand“. Saat ini anehnya mental penindas justru muncul penguasa yang bermental jongos dan budak. Boneka Oligarki dan kekuasaan besar dari luar dirinya.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











