“Pertama, fasilitas sekolah yang aman. Kedua, adanya management bencana di sekolah. Dan pilar ketiga adalah adanya pendidikan pengurangan resiko bencana di sekolah yang dipadukan dengan pembelajaran dan kurikulum sekolah, baik dalam kegiatan belajar mengajar maupun dalam kegiatan ekstra kurikuler,” cetusnya.
Lebih lanjut, Lusti menegaskan perlunya kerjasama semua komponen sekolah dan semua pihak terkait guna mengembangkan kesiapsiagaan dalam mengurangi resiko bencana dan juga dampaknya bagi masyarakat sekolah.
“Semua komponen di sekolah, baik guru, siswa, komite, orang tua dan semua lembaga dan stakeholder terkait di sekitar sekolah harusya bekerja sama agar bisa mengembangkan kesiapsiagaan di sekolah secara berkala dengan simulasi dan praktek yang pada akhirnya bisa mengurangi resiko serta dampaknya bagi masyarakat sekolah,” tegasnya.
Sementara itu, Ardi Husen selaku Kepala Bidang di Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kab. Manggarai, dalam uraiannya menyebutkan tiga fase yang perlu diketahui dalam penanganan bencana, yaitu pra bencana, saat bencana dan pasca bencana.
“Kegiatan satuan pendidikan aman bencana adalah salah satu tahap yang kita perlu lakukan. Di tahap pra bencana sebagai kesiapsiagaan agar nanti kalau ada bencana masyarakat sekolah sudah siap menghadainya dan bisa meminimlisir korban,” katanya.
Sementara itu, Kepala sekolah SDI Perak Paulus Pantur dalam pembicaraannya menyampaikan terima kasih kepada WVI dan pihak Puspas-WVI Keuskupan Ruteng serta BPBD Kab. Manggarai yang sudah hadir untuk memberikan sosialisasi tentang sekolah tanggap bencana kepada para guru dan siswa serta perwakilan orang tua siswa di SDI Perak. Baginya, kegiatan yang diadakan tersebut sangatlah membantu pihak sekolah dan orang tua siswa dalam pengembangan sekolah tanggap bencana.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel
Tinggalkan Balasan