Tak Pernah Luput dari Risiko

(sekadar satu perenungan)

“Saya selalu melakukan apa yang tidak dapat saya lakukan agar saya dapat belajar bagaimana melakukannya”
(Pablo Ruiz Picasso, seniman-pelukis Spanyol, 1881- 1973)

P. Kons Beo, SVD

Harus kah kini dimulai? Atau, mesti kah itu ditunda? Namun entah sampai kapan ditundanya? Kita, jadinya, tak pernah memulainya. Tetap dalam penantian. Dan keadaan ini teruslah sedemikian. Sebab kita punya banyak kalkulasi dalam hidup. Rugi laba kehidupan, katanya, mesti ditakar secermatnya. Ini belum lagi bila merasa diteguhkan oleh nasihat kebajikan: “Sabar, dan bersabarlah. Orang sabar disayang Tuhan.” Namun, harus kah selalu demikian?

Kita terus menanti saat yang tepat. Kita berharap akan datangnya kesempatan yang menjanjikan. Tetapi, tidak kah ini bagi kita aliran waktu tetap mengalir dan terus mengalir tanpa ‘terisi’? Pada saat yang sama, kita tetap ‘mengisi waktu’ dengan litania mimpi, angan-angan, serta bayangan. Tanpa konstruksi pada ‘segeralah mulai’ demi tiba pada kenyataannya.

Ini ibarat, katakan semisal ‘bikin paper sebagai tugas wajib akademik.’ Katanya outline tulisan sudah pada beres. Telah diaprovasi. “Tinggal hanya” mulai kerja. Kedengarannya penuh harapan. Namun, “hanya tinggal” tetaplah “tinggal hanya.” Sebab yang bersangkutan masih tetap nikmati segala perhelatan sana-sini, gesit dalam mobilitas serta aktivitas yang sungguh jauh atau tak konek sedikit pun dengan proses “beri isi pada outline” itu. Tentu ada banyak contoh lainnya.

Sang bijak punya isi dan jalur pikir sebaliknya. Katanya, “Tidak ada waktu yang ideal untuk bertindak. Kita hanya akan terus menunggu kalau kita berpikir akan ada waktu untuk berbuat baik.” Atau demi melakukan sesuatu yang menjadi keharusan.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel