Tag: Wae Rebo

  • Seluruh Wisatawan di Wae Rebo Berhasil Dievakuasi

    Seluruh Wisatawan di Wae Rebo Berhasil Dievakuasi

    Ruteng, infopertama.com – Seluruh wisatawan yang berada di Kampung Adat Wae Rebo berhasil dievakuasi dengan aman menyusul longsor yang terjadi di jalur tracking menuju kawasan wisata tersebut.

    Evakuasi dilakukan setelah cuaca buruk yang melanda wilayah Kabupaten Manggarai selama beberapa hari terakhir menyebabkan jalur tracking menuju Wae Rebo mengalami longsor dan tidak dapat dilewati.

    Informasi penutupan sementara jalur wisata tersebut disampaikan oleh pihak manajemen Wae Rebo demi menjaga keselamatan wisatawan dan masyarakat setempat.

    Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai, Aloisous Jebarut, mengatakan seluruh wisatawan yang sebelumnya berada di Wae Rebo telah berhasil dievakuasi dan kini berada dalam kondisi aman.

    “Semua wisatawan yang berada di Wae Rebo sudah dievakuasi dengan aman. Untuk sementara waktu, aktivitas wisata menuju Wae Rebo ditutup sampai kondisi jalur tracking benar-benar aman untuk dilalui,” ujarnya.

    Sementara itu, Camat Satarmese Barat, Yosef Soni, Jumat malam (15/05), memastikan proses evakuasi berjalan lancar. Ia menyebut pemerintah kecamatan bersama pihak terkait juga terus memantau sejumlah titik bencana lain akibat cuaca ekstrem.

    “Karena ada beberapa titik bencana juga yang harus saya kunjungi, terutama kali-kali yang airnya banjir,” ungkap Yosef Soni.

    Hingga saat ini, penanganan longsor di jalur tracking menuju Wae Rebo masih terus diupayakan oleh warga setempat bersama pihak terkait agar akses menuju kampung wisata tersebut dapat kembali normal.

    Laman: 1 2

  • Jalur Longsor Akibat Cuaca Buruk, Wisata ke Wae Rebo Sementara Ditutup

    Jalur Longsor Akibat Cuaca Buruk, Wisata ke Wae Rebo Sementara Ditutup

    Ruteng, infopertama.com – Aktivitas wisata menuju Kampung Adat Wae Rebo untuk sementara waktu ditutup akibat cuaca buruk yang terjadi selama sepekan terakhir di wilayah Kabupaten Manggarai.

    Hujan dengan intensitas tinggi yang melanda kawasan pegunungan menyebabkan terjadinya longsor di jalur tracking menuju Wae Rebo sehingga akses perjalanan wisatawan tidak dapat dilewati.

    Informasi tersebut disampaikan langsung oleh manajemen Wae Rebo kepada pemerintah daerah dan para pelaku wisata setempat.

    Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai, Aloysius Jebarut, Jumat (15/05) mengatakan penutupan sementara dilakukan demi menjaga keselamatan wisatawan maupun masyarakat di sekitar kawasan wisata budaya tersebut.

    “Kami mengimbau para wisatawan untuk sementara beristirahat dulu dari rencana perjalanan ke Wae Rebo karena jalur tracking sedang longsor dan belum bisa dilewati,” ujarnya.

    Menurutnya, kondisi cuaca buruk selama minggu ini membuat jalur trekking menjadi licin dan berbahaya. Selain material longsor, beberapa titik jalur juga dilaporkan tertutup tanah dan bebatuan sehingga tidak memungkinkan untuk aktivitas pendakian wisata.

    Pemerintah daerah bersama pengelola dan masyarakat setempat saat ini terus memantau perkembangan kondisi cuaca sambil menunggu proses pembersihan jalur dilakukan. Wisatawan diminta untuk menunda perjalanan hingga ada pemberitahuan resmi bahwa jalur kembali aman digunakan.

    Sebelumnya, destinasi wisata Wae Rebo juga beberapa kali mengalami penutupan sementara akibat cuaca ekstrem, hujan lebat, angin kencang, pohon tumbang, dan longsor di jalur trekking menuju kampung adat tersebut.

    Laman: 1 2

  • Utsus Pariwisata Zita Anjani Rayakan HAN ke 41 di SDK Denge, Bagikan Kado Spesial

    Utsus Pariwisata Zita Anjani Rayakan HAN ke 41 di SDK Denge, Bagikan Kado Spesial

    Ruteng, infopertama.com – Utusan Khusus Presiden Prabowo Subianto bidang pariwisata, Zita Anjani merayakan Hari anak Nasional (HAN) ke 41 lebih awal di SDK Denge bersama ratusan anak-anak pelajar dari 4 sekolah di kawasan Wisata Wae Rebo, Selasa, 22 Juli 2025.

    Zita Anjani hadir di SDK Denge selain tuk memeringati HAN ke 41 juga hadir untuk meninjau langsung kondisi destinasi wisata desa adat Wae Rebo, peraih desa terindah kedua dunia versi UNESCO.

    Zita Anjani pada peringatan HAN ke 41 di SDK Denge memberikan kado spesial bagi sekitar 50an anak pelajar perwakilan dari 4 sekolah yang hadir.

    Kado spesial HAN itu bisa digunakan buat beli seragam, buat beli ATK atau keperluan lain untuk pendidikan anak-anak. “Mudah-mudahan bermanfaat buat adik-adik semuanya.” Ujar Zita Anjani, Selasa.

    Pantauan infopertama.com, Zita Anjani tampak mengajak anak-anak di SDK Denge bernyanyi bersama dua lagi anak-anak.

    Sebelumnya, para siswa 4 sekolah di kawasan Wae Rebo mementaskan beberapa rangkaian acara di hadapan Zita Anjani yang hadir didampingi Ahmad Yohan, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI. Wakil Bupati Manggarai, Fabianus Abu, Anggota DPRD Manggarai Ursula Anur dan Rikar Madur, pimpinan OPD, Camat, Kades dan Kepala sekolah juga hadir menyambut Zita Anjani dan rombongan.

    Pementasan dimulai dengan lenggah lenggok siswi SMP Negeri 4 Satar Mese dalam tarian Tiba Meka menyambut Utusan khusus Bidang Pariwisata, Zita Anjani.

    Siswa SDI Wongka membawakan Rangkuk Alu yang diperagakan di halaman SDK Denge untuk dipertontonkan kepada Zita Anjani, Ahmad Yohan, Wakil Bupati Manggarai Fabianus Abu dan semua yang hadir. Algi siswa kelas VI SDI Wongka ikut menunjukkan bakatnya memainkan permainan Egrang.

    Laman: 1 2

  • Viral Pasangan Bule Begituan di Gua Rangko, Labuan Bajo

    Labuan Bajo, infopertama.com – Sebuah video viral di TikTok karena menampilkan potongan adegan dewasa pasangan dewasa di gua rangko, Labuan Bajo, NTT.

    Video viral itu merupakan unggahan akun Tiktok @Ikram Afro Attamimi ketika sedang mengunjungi lokasi wisata Gua Rangko, di Labuan Bajo, NTT.

    Dalam narasinya, ikram mengeluhkan kesulitan untuk mengabadikan momen di Gua Rangko. Hal itu karena dalam cuplikan tayangan videonya ada pasangan turis yang sedang pangkuan-pangkuan berpelukan di dalam air, seperti sedang memasukan sesuatunya pada sesuatu milik pasangannya.

    “Kita mau foto sulit, ya. Pahamlah ya,” ujar Ikram sembari menengok ke arah pasangan turis yang sedang menikmati adegan pangku-pangkuan di Gua Rangko.

    Tampak dalam video yang diberi judul “Mau Liburan Malah Ngotorin Hati dan Pikiran” itu, Ikram menjelasakan bahwa Labuan Bajo bukan hanya ada Komodonya, tetapi ada banyak tempat menarik lainnya, salah satunya adalah Gua Rangko.

    Gua Rangko
    Tangkapan Layar Akun TikTok @Ikram Afro Attamimi

    Cuplikan adegan pangku-pangkuan itu mengundang komentar nitizen di akun TikTok Ikram yang memiliki 2,7M pengikut.

    @nurhayati33588: wow pemandangan indah yg di air😁😁

    “Kyknya lokal sm bule sih😂” tanya akun @Masbroww yang dijawab pengguna akun lainnya, @NisaFaizaaa.

    Menurut NizaFaizaaa bahwa ia mengenal sosok dalam cuplikan video itu.

    “itu tmn saya bntr sya tag @littlesecret.twentysix @ra_ 😭” tulis NizaFaizaaa.

    Sementara itu, pemilik akun @Ikram Afro Attamimi menjelaskan bahwa adegan itu bukanlah adegan mesum, hanya peluk-pelukan saja.

    “Haloo, Gak begituan kok cuman pelukan doang turis kok,” ujar Ikram via gawainya, Senin, 15 Juli 2024.

    Laman: 1 2

  • Pemkab Manggarai Terus Lakukan Upaya Pengembangan dan Pembangunan Kepariwisataan

    Ruteng, infopertama.com – Sebagai salah satu sektor strategis yang memiliki kontribusi sangat penting terhadap geliat ekonomi masyarakat, Pemerintah Kab. Manggarai terus melakukan berbagai upaya dalam pengembangan dan pembangunan kepariwisataan di Manggarai.

    Langkah-langkah strategis telah diatur dalam Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (RIPPARDA) Kab. Manggarai tahun 2022-2025, yakni terciptanya Kepariwisataan Daerah yang berdaya saing global sebagai penggerak ekonomi masyarakat secara berkelanjutan, berwawasan lingkungan dan berbasis sosial budaya.

    Demikian disampaikan Bupati Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Herybertus G.L. Nabit, S.E., M.A., saat membuka secara resmi kegiatan Pelatihan Pemandu Wisata Gunung, di Obyek Wisata Wae Rebo, Desa Satar Lenda, Kec. Satar Mes Barat, yang diselenggarakan Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif  Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Manggarai, Selasa (21/05/2024.

    “Salah satu point penting dalam Ripparda Manggarai tahun 2022-2025 adalah pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan ini adalah semua upaya meningkatkan kesadaran, kapasitas, akses dan peran masyarakat. Baik secara individu maupun kelompok dalam memajukan kualitas hidup, kemandirian dan kesejahteraan melalui kegiatan kepariwisataan. Itu artinya, kegiatan Pelatihan Pemandu Wisata Gunung/Alam yang kita mulai hari ini adalah poin pemberdayaan masyarakat,” demikian Bupati Hery Nabit.

    Menurut Bupati Hery Nabit, pemilihan tempat pelaksanaan kegiatan Pemandu Wisata Gunung ini sangat relevan di Wae Rebo Desa Satar Lenda. Selain sebagai destinasi wisata unggulan, Wae Rebo sudah menjadi etalase. Sebagai etalase, Wae  Rebo selama ini sudah tampil dengan wajah yang baik. Wajah yang membuat daerah ini mendapat penilaian positif dari wisatawan.

    Laman: 1 2 3

  • Keren, Wae Rebo NTT Dinobatkan Sebagai Desa Kecil Paling Cantik di Dunia Setelah Jerman


    infopertama.com – Wae Rebo merupakan salah satu surga tersembunyi yang lokasinya berada di Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Ini merupakan sebuah desa adat tradisional yang memiliki pemandangan yang indah dan asri.

    Mendaki 7 Km ke Kampung Adat Wae Rebo Desa ini terkenal dengan keindahan alamnya yang luar biasa, dengan panorama pegunungan indah dan desa yang terletak di atas awan.

    Tak heran, para wisatawan yang berkunjung ke Desa Wae Rebo pasti akan dimanjakan dengan pemandangan yang benar-benar indah hingga mampu melepaskan penat seketika.

    Terletak di Kabupaten Manggarai di Pulau Flores, Prov. Nusa Tenggara Timur, desa wisata yang satu ini dulu sempat mendapatkan Top Award of Excellwence dari UNESCO dalam UNESCO Asia Pacific Heritage Awards 2012, yang umumkan di Bangkok pada 27 Agustus 2012.

    Dan kali ini, Desa Wae Rebo kembali menuai decak kagum karena masuk ke dalam daftar desa kecil paling cantik di dunia. Bahkan berada di posisi kedua mengalahkan USA, Italy dan lainnya. Penilaian ini tentu berdasarkan Spectator Index.

    Diketahui dari unggahan akun Instagram @localfest pada Selasa 19 Maret 2024, berikut ulasannya.

    Rumah Kerucut Jadi Ikonik Desa Ini

    Jika mengunjungi Desa Wae Rebo yang berlokasi di Flores, Prov. Nusa Tenggara Timur (NTT), kalian pasti akan menemukan sebuah desa dengan bentuk atap rumah yang khas yaitu mengerucut.

    Berbeda daripada umumnya, atap rumah di Desa Wae Rebo benar-benar memiliki ciri khas tersendiri. Selain itu berbagai rumah di sana atapnya tertutup oleh ilalang lontar.

    Laman: 1 2

  • Negeri di Atas Awan, Desa Adat Wae Rebo yang Tak Tergoyahkan dengan Modernisasi

    Ruteng, infopertama.com – Di tengah perkembangan pembangunan dan modernisasi, di Indonesia masih terdapat beberapa desa adat.

    Salah satunya Desa Adat Wae Rebo yang berlokasi di kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT).

    Desa adat yang dikelola masyarakat adat ini memiliki hak untuk mengurus wilayahnya sesuai dengan adat istiadat yang berlaku ratusan tahun lalu.

    Bangunan, tempat tinggal, dan lingkungannya pun sama dengan masa di ratusan tahun lalu.

    Desa Adat Wae Rebo berada di daerah pegunungan terpencil dengan ketinggian 1.200 mdpl.

    Membutuhkan stamina yang fit untuk mencapai lokasi ini, sebab pengunjung akan treeking sekitar 3-4 jam dari kampung terdekat.

    Sandiaga Uno didampingi Bupati Manggarai Herry Nabit saat Kunjungi Wae Rebo

    Bila dari Labuan Bajo, kota terdekat adalah Ruteng, Ibu Kota kabupaten Manggarai.

    Setelah itu, menggunakan ojek selama 2 jam menuju Kampung Dintor. Kemudian lanjutkan dengan trekking ke Kampung Wae Rebo.

    Desa berumur 1200 tahun

    Desa Adat Wae Rebo telah berumur lebih dari 1.200 tahun.

    Sejak 2012, UNESCO menetapkannya sebagai Warisan Budaya Dunia untuk memastikan keberadaan desa adat yang eksotis ini.

    Salah satu keunikan dari Wae Rebo adalah rumah penduduknya.

    Sekitar tujuh rumah utama di sini terbuat dari bahan kayu yang merucut dan beratap ayaman ilalang.

    Rumah utama diberi nama Mbaru Niang, satu rumah adat yang sudah bertahan sejak 19 generasi lamanya.

    Terkenal dengan kopi Flores

    Selain bentuk rumah, faktor menarik lain dari Desa Adat Wae Rebo adalah kehidupan penduduknya.

    Penghuni kampung adat ini hanya 44 kepala keluarga dengan mata pencarian sebagai petani.

    Tanaman utamanya kopi, cengkeh dan umbi-umbian.

    Laman: 1 2

  • Sandiaga Uno ke Wae Rebo, Nominasi Best Tourism Village 2021 jatuh ke Desa Nglanggeran

    Sandiaga Uno ke Wae Rebo, Nominasi Best Tourism Village 2021 jatuh ke Desa Nglanggeran

    Wae Rebo, Foto: Terry Janu
    Kampung Adat Wae Rebo. Foto: Terry Janu
    Ruteng, infopertama.com – Menteri Pariwisata dan ekonomi kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahudin Uno mengunjungi desa wisata Wae Rebo pada Kamis (02/12/21). Desa Wisata Wae Rebo yang mendapat julukan Negeri Di Atas Awan tersebut terletak di desa Satar Lenda, kecamatan Satar Mese Barat, kabupaten Manggarai, NTT.
    Kunjungan menparekraf, Sandiaga Uno ke Wae Rebo merupakan kunjungan ke 50 pada titik Wisata Indonesia dalam anugrah Desa Wisata Nusantara. Wae Rebo jadi titik terakhir kunjungan mantan calon wapres pasangan Prawobo Subianto pada perhelatan Pilpres kali lalu.

    Penyambutan Menparekraf di Wae Rebo

    Menteri Sandi tiba di Wae Rebo pada Kamis sore sekitar pukul 17.00 Wita. Di sana, Ia dan rombongan mendapat sambutan ritus budaya Manggarai dari masyarakat adat Wae Rebo dan Bupati Manggarai.
    Tuak Curu dan Manuk Lalong bakok (Jantan Putih), kemudian, Selendang, kain tenun dan peci produksi Wae Rebo dikenakan ke Menparekraf. Juga kepada Direktur tata kelola destinasi dan pariwisata berkelanjutan kemenparekraf, bapak Indra Ni Tua.
    Di hadapan Bupati Manggarai dan masyarakat adat Wae Rebo, menteri Sandi menyampaikan apresiasinya atas keindahan alam Wae Rebo.
    “Perjuangan yang sangat sulit, menyisiri jalan stapak yang licin. Perjalanan yang melelahkan, tapi panorama alamnya sangat memanjakan mata. Luar Biasa.” Puji Sandi yang disambut tepuk tangan Warga Wae Rebo.
    Di Wae Rebo, Menteri Sandi juga mengumumkan jika Wae Rebo menjadi salah satu destinasi wisata yang mendapat kesempatan mengikuti ajang Best Tourism Village 2021 gelaran UNWTO. Sebuah organisasi pariwisata dunia di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa.
    Sementara itu, Direktur Destinasi dan Tata Kelola Pariwisata Berkelanjutan, Indra Ni Tua, pada Kamis (02/12/21) sore kepada infopertama.com secara rinci menjelaskan bahwa ada tiga perwakilan Indonesia yang mengikuti ajang International UNWTO 2021.
    “Ini adalah salah satu desa yang oleh pak menteri direkomendasikan mengikuti ajang intenternational Best Tourism Village 2021 yang dikelola oleh oraganisasi di bawah PBB, UNWTO.” Indra menambahkan, “Jadi ada tiga desa wisata indonesia yang ikuti ajang ini dan sedang dikompetisikan. Desa Tetebatu dari NTB, kemudian desa Nglanggeran dari Gunung Kidul DIY,” sebut Indra.

    Nglanggeran Sabet Anugrah Best Tourism Village 2021

    Saat Menparekraf Sandiaga Uno bermalam di Wae Rebo, UNWTO mengumumkan pemenang desa wisata yang berlangsung di Spanyol pada Kamis Malam waktu setempat. Kabar bahagianya salah satu perwakilan Indonesia pada ajang International tersebut meraih predikat Best Tourism Village 2021.
    Kabar bahagia itu datang dari Desa Nglanggeran, Yogyakarta. Desa Wisata Nglanggeran di Kelurahan Nglanggeran, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul menyabet Best Tourism Village 2021 dari Organisasi Pariwisata Dunia di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNWTO). Desa Nglanggeran menjadi satu-satunya perwakilan dari Indonesia yang mendapatkan penghargaan tersebut.
    Desa Wisata Nglanggeran, Foto: Google
    Gunung Api Purba Nglanggeran. Foto: Tempo/ Pribadi Wicaksono
    Pengelola Desa Wisata Nglanggeran Sugeng Handoko menjelaskan sebenarnya ada tiga desa wisata yang diajukan oleh Kemenparekraf RI untuk mengikuti Best Tourism Village 2021 dari UNWTO.
    “Ini adalah rangkaian yang cukup panjang karena diusulkan juga oleh Kemenparekraf, awalnya 3 desa yang diusulkan (ikut UNWTO). Terus kemarin pengumumannya disiarkan via daring karena acaranya kan di Madrid, Spanyol,” kata dia melansir KRJogja, Jumat (3/12/2021).

    Kategori Penilaian UNWTO

    Dalam ajang ini, UNWTO memilih desa terbaik berdasarkan inovasi dan transformasi pariwisata yang telah dilakukan. Inovasi ini disesuaikan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Ajang Best Tourism Village juga bertujuan untuk memaksimalkan kontribusi desa wisata, serta mengurangi kesenjangan di pedesaan.
    Nantinya desa wisata yang lolos seleksi dan evaluasi UNWTO akan memperoleh predikat UNWTO Best Tourism Villages Label. Dengan label ini, desa wisata bisa mendapatkan pengakuan internasional sebagai contoh praktik terbaik destinasi wisata pedesaan.
    Menyoal apa yang menjadikan Desa Wisata Nglanggeran pantas meraih best tourism village 2021 dari UNWTO, Sugeng menilai karena beberapa kali Nglanggeran meraih penghargaan baik di dalam maupun luar negeri. Selain itu, Nglanggeran terbilang cukup komplet sebagai Desa Wisata.
    “Kami bersyukur ya Nglanggeran cukup komplit dan memang desa wisata yang berkembang. Selain itu pernah menyandang desa mandiri menginspirasi dari Kemenparekraf. Kemudian kita pernah menjadi pemenang desa wisata terbaik ASEAN 2017, kemudian penghargaan ASTA (ASEAN Sustainable Tourism Award) tahun 2018,” ucapnya.

    Keunggulan Nglanggeran

    Selain itu, kata Sugeng, Desa Wisata Nglanggeran memiliki keunggulan dalam menyelaraskan kelestarian alam dengan atraksi Desa Wisata. Terlebih, pihaknya tetap mempertahankan kearifan lokal dalam mengembangkan potensi Nglanggeran.
    “Jadi memang kayaknya dipilih Desa Wisata yang memang sudah niat, itu yang pertama. Kedua, keunggulan kami pertama kami bisa menyelaraskan menjaga kelestarian alam untuk atraksi Desa Wisata,” katanya.
    “Kedua tetap mempertahankan dan menggambarkan kearifan lokal dan seni budaya yang ada di masyarakat, memberikan manfaat secara ekonomi, sosial, lingkungan. Sehingga pariwisata dan pengembangan desa wisata memberikan dampak positif bagi masyarakatnya, manusianya dan lingkungannya, alamnya,” beber Sugeng menambahkan.
    Menyoal rencana setelah meraih penghargaan di level internasional ini, Sugeng mengaku tidak akan berpuas diri dan berupaya terus melakukan inovasi di Desa Wisata Nglanggeran. Semua itu untuk menggerakkan masyarakat agar semakin sejahtera dengan keberadaan Desa Wisata.
    “Harapannya kami juga bisa melakukan kolaborasi dengan desa wisata lain baik di Gunungkidul, Yogyakarta maupun Indonesia. Untuk bisa bareng-bareng mengangkat dan mengelola potensi yang dimiliki di desa untuk kesejahteraan masyarakat,” ucapnya.

    Berikut Desa yang menyabet predikat Best Tourism Villages 2021 dari UNWTO:

    – Bekhovo, Russian Federation
    – Bkassine, Lebanon
    – Bojo, Philippineshe
    – Caspalá, Argentina
    – Castelo Rodrigo, Portugal
    – Cuetzalan del Progreso, Mexico
    – Cumeada, Portugal
    – Gruyères, Switzerland
    – Batu Puteh, Malaysia
    – Kaunertal, Austria
    – Le Morne, Mauritius
    – Lekunberri, Spain
    – Maní, Mexico
    – Misfat Al Abriyeen, Oman
    – Miyama, Japan
    – Mokra Gora, Serbia
    – Morella, Spain
    – Mustafapaşa, Turkey
    Nglanggeran, Indonesia
    – Niseko, Japan
    – Nkotsi Village, Rwanda
    – Old Grand Port, Mauritius
    – Olergesailie, Kenya
    – Ollantaytambo, Peru
    – Pano Lefkara, Cyprus
    – Pica, Chile
    – Pochampally, India
    – Puerto Williams, Chile
    – Radovljica, Slovenia
    – Rijal Alma’a, Kingdom of Saudi Arabia
    – Testo Alto, Brazil
    – Saas Fee, Switzerland
    – San Cosme y Damián, Paraguay
    – San Ginesio, Italy
    – Sidi Kaouki, Morocco
    – Solčava, Slovenia
    – Soufli, Greece
    – Taraklı, Turkey
    – The Purple Island, Republic of Korea
    – Ungok Village, Republic of Korea
    – Valposchiavo, Switzerland
    – Wonchi, Ethiopia
    – Xidi, China
    – Yucun, China
    (KRJogja/iP)