Sementara salah satu komoditi utama masyarakat Wae Rebo adalah kopi Flores (Kopi Manggarai/ Kopi tuang).
Selain itu, mereka juga menjual berbagai souvenir dan kerajinan tangan bagi para pengunjung yang datang.
Pengunjung pun boleh menginap di desa. Ada dua rumah yang berfungsi sebagai tempat menginap.
Satu rumah menampung 30-35 orang. Untuk menginap harganya sekitar Rp325.000 termasuk 2 kali makan.
Upacara Adat Penti
Waktu terbaik mengunjungi Desa Adat Wae Rebo adalah bulan November, tatkala ada upacara adat Penti.
Upacara adat Penti ini sebagai ungkapan syukur atas hasil panen dalam setahun.

Dan juga untuk memohon perlindungan pada alam demi masa datang yang baik.
Upacara ini juga menandai awal baru dalam tradisi bercocok tanam penduduk Wae Rebo.
Biasanya akan ada sekitar 300 tamu yang hadir, termasuk para pelancong
Masyarakat lokal akan siaga membantu pelancong yang datang dan menginap untuk merasakan kehidupan penduduk di sana.
Tidak ada Sekolah
Di Kampung Wae Rebo tidak memiliki satu gedung sekolah sekali pun. Untuk bisa mengenyam pendidikan dasar, anak-anak Wae Rebo harus turun bukit dan tinggal di kampung Denge. Di kampung ini, ada satu Sekolah Dasar Katolik (SDK Denge) tempat anak-anak Wae Rebo belajar.

Biasanya, saat usia sekolah dasar, anak-anak Wae Rebo harus tinggal jauh dari keluarga inti di Kampung Adat Wae Rebo. Mereka tinggal di rumah kerabat di kampung Denge, mengingat jarak tempuh antara Denge dan Wae Rebo yang sangat jauh dengan medan yang berat.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel
Tinggalkan Balasan