Mengaku Korban NPD: Refleksi atau Reaksi?”
infolovers, jika kita rajin scrolling di medsos cukup sering kita menemukan story-story dari Emak-emak yang selalu menjadi korban NPD. Ada yang emang benar korban NPD, tapi paling banyak hanya mengaku jadi korban, ikutan tren dengan istilah NPD tapi gak ngerti NPD itu apa…. Yang penting NPD ada dalam story medsos dan diserbu like serta komentar.
Emak-emak… mari kita jujur sebentar Sekarang ini, di grup WA, story tiktok, FB sampai IG story, kata yang paling sering muncul selain “capek” dan “butuh healing” adalah NPD.
Sedikit-sedikit:
“Aku korban NPD.”
“Capek hidup sama NPD.”
“Ternyata selama ini aku dimanipulasi NPD.”
Padahal kalau ditanya pelan-pelan:
“NPD itu apa sih, Mak?”Jawabannya sering:
“Pokoknya orang jahat.”
“Pokoknya bikin sakit hati.”
“Pokoknya dia salah, aku korban.”
Nah… di sinilah kita perlu duduk manis, ngopi sebentar, dan ngobrol pelan-pelan. Biar nggak asal cap, nggak asal nuduh, dan yang paling penting: nggak malu sendiri nanti kalau sadar…
NPD Itu Apa Sebenarnya?
NPD itu singkatan dari Narcissistic Personality Disorder.
Artinya apa? Tenang… bukan mantra, bukan penyakit nular.
Artinya sederhana: pola kepribadian orang yang terlalu fokus ke dirinya sendiri dan susah banget empati ke orang lain. Nah Ciri umumnya:
Merasa paling benar
Paling berjasa
Paling capek
Paling menderita
Kalau salah, pasti salah orang lain!
Penting ya, Mak: NPD itu bukan:
Orang yang lagi emosi
Orang yang nyebelin
Suami yang keras kepala
Istri yang cerewet
Kalau cuma berantem, kesel, sakit hati… itu namanya konflik, bukan NPD.
Kenapa Sekarang Semua Merasa Jadi Korban NPD?
Karena jujur aja…jadi korban itu enak.
Korban itu:
Nggak perlu minta maaf
Nggak perlu ngaca ke diri sendiri)
Selalu dapat dukungan
Begitu bilang:
“Aku korban NPD.”Langsung deh:
“Ya Allah sabar ya.”
“Kamu kuat banget.”
“Dia emang jahat.”
Selesai.
Nggak perlu mikir:
“Aku salah di mana ya?”
Emak-Emak & Story Sindiran
Ini bagian favorit
Story itu sering jadi tempat:
Curhat tapi nggak mau ditanya
Nyindir tapi nggak mau ngobrol
Ngaku kuat tapi pengen diperhatiin
Kalimatnya biasanya begini:
“Aku capek tapi nggak pernah dimengerti.”
“Aku selalu ngalah.”
Tapi jarang banget ada story:
“Mungkin aku juga keras.”
“Mungkin aku juga nyakitin.”
Padahal hubungan itu jarang satu arah.
Biasanya dua-duanya sama-sama capek, sama-sama ego, sama-sama pengen dimengerti.
Merasa Korban, Tapi Kok Mirip Pelaku?
Ini pahit, tapi sering kejadian.
Ciri-cirinya:
Nggak mau dikritik
Kalau dikritik, ngambek
Maunya dimengerti, tapi nggak mau ngerti
Selalu benar menurut versinya sendiri
Kalau orang lain beda pendapat:
“Kamu toxic.” (toxic = bikin nggak nyaman)
Kalau orang lain pasang batas:
“Kamu jahat.”
Padahal bisa jadi…orang lain cuma lagi capek juga.
Merasa korban terus, tapi nggak mau salah, itu bukan tanda sehat. Itu tanda ego lagi tinggi.
Pelaku NPD & Korban NPD Itu Nggak Sesimpel Hitam Putih
Di dunia nyata:
Kadang dua-duanya sama-sama nyakitin
Kadang satu nyindir, satu membalas
Kadang dua-duanya gengsi
Bukan: Aku malaikat Dia iblis, Kalau setiap cerita hidup selalu: Aku korban, Dia pelaku Coba tanya ke diri sendiri:
“Apa aku pernah nyakitin orang juga?”
NPD Jangan Jadi Tameng
Tameng itu artinya pelindung.
Kadang label NPD dipakai buat:
Nutup rasa bersalah
Nutup tanggung jawab
Nutup kewajiban berubah
Psikologi itu bukan buat nyerang orang.
Bukan buat menang debat.
Tapi buat beres sama diri sendiri.
Daripada Sibuk Story, Mending Gini
Daripada tiap hari:
“Aku korban NPD.”
Coba sekarang :
Ngobrol jujur
Pasang batas (tahu sampai mana mau disakiti)
Belajar bilang “nggak”
Cari bantuan kalau memang capek banget
Nggak semua luka butuh label.
Kadang cuma butuh keberanian ngomong.
Emak-emak yang baik hati
Merasa capek itu wajar. Merasa sakit itu manusiawi.
Tapi jangan semua masalah dikasih nama NPD.
Karena bisa jadi yang perlu disembuhkan bukan orang lain, tapi cara kita menghadapi masalah.
Jadi sebelum bikin story:
“Aku korban NPD.”
Coba tarik napas, ngaca sebentar, dan tanya:
“Aku benar-benar korban…
atau aku cuma nggak mau disalahkan?”
Kalau masih mau story juga… Silakan Tapi semoga sekarang lebih paham, lebih sadar, dan lebih dewasa.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp ChanelÂ
Â



