Cepat, Lugas dan Berimbang

Puber Kedua, Fase Emak-Emak Masuk ke Medsos jadi Lebih Berisik dari Remaja

Oplus_131072

infopertama.com – Siapa bilang pubertas hanya datang saat usia belasan? Banyak emak-emak di sekitar kita yang mengalami apa yang bisa disebut “puber kedua” – fase di mana perubahan fisik, emosional, dan sosial membuat mereka tampak lebih berisik ketimbang remaja dan terkadang bertindak jauh melampaui batas logika. Dan kini, media sosial menjadi bagian tak terpisahkan yang memperkuat dinamika ini.

Media sosial menjadi panggung paling jujur untuk melihat perubahan itu. Emak-emak yang dulu dikenal kalem, sibuk dapur, keluarga, dan urusan rumah, kini tampil percaya diri di depan kamera. Joget, live berjam-jam, caption penuh emosi, dan komentar yang kadang lebih panas dari anak SMA.

Ini bukan cerita salah atau benar. Ini hanya pandangan dari sisi lain-tentang fase hidup yang jarang dibahas, tapi nyata terjadi.

Penyebabnya tak bisa dipisahkan dari perubahan hormonal saat mendekati masa menopause. Perasaan tidak nyaman dengan tubuh yang berubah, ketakutan akan penuaan, dan seringkali rasa tidak puas dengan dinamika hubungan atau kehidupan rumah tangga membuat emosi menjadi mudah meledak.

Mereka jadi lebih sering mengeluh – mulai dari rasa sakit sendi, cara anak atau suami berperilaku, hingga hal sepele seperti rasa makanan yang tidak sesuai selera – dan kini semua itu dibagikan di platform seperti Facebook, Instagram, atau TikTok yang kerap mereka gunakan.

Puber kedua bukan istilah medis, tapi fenomena sosial. la muncul ketika seseorang-khususnya perempuan dewasa -mengalami fase ingin diakui, dilihat, dan dirasakan kembali hidupnya setelah bertahun-tahun fokus pada orang lain.

Setelah anak besar. Setelah rutinitas menggerus jati diri. Setelah tubuh berubah, perhatian berkurang, dan pujian makin jarang. Media sosial datang seperti oase: murah, cepat, dan penuh respons.

Suara yang lebih tinggi saat berbicara atau menulis komentar bukan hanya karena ingin terdengar, melainkan juga karena mereka mencari respons dari komunitas yang mereka ikuti.

Yang paling mencolok adalah Like menjadi validasi. Komentar jadi pengakuan. DM terasa seperti perhatian yang lama hilang.

Saat sebuah postingan tentang keluhan mendapatkan banyak suka atau komentar dukungan, emak-emak tersebut merasa bahwa perasaannya sah dan tindakannya benar – bahkan jika secara logika itu mungkin tidak tepat.

Misalnya, mereka bisa saja berbagi informasi kesehatan yang tidak terbukti kebenarannya, namun karena banyak yang menyukai dan mengomentari bahwa “bermanfaat”, mereka jadi lebih yakin dan bahkan berani menyebarkannya lebih luas. Atau saat mereka mengkritik kebijakan sekolah anak atau kebiasaan keluarga, dukungan dari teman-teman di media sosial membuat mereka merasa berhak untuk terus mengangkat suaranya, terkadang hingga tingkat yang dianggap berlebihan oleh orang lain.

Namun sisi “lebih berani” tidak selalu negatif. Banyak emak-emak yang setelah mendapatkan dukungan dari media sosial justru berani mengambil langkah konstruktif – mulai dari mencoba bisnis rumahan baru yang dulu hanya jadi impian, berani menyampaikan pendapat tentang isu sosial yang mereka pedulikan, hingga memutuskan untuk mengikuti kelas pelatihan untuk meningkatkan keterampilan.

Meskipun terkadang keputusannya terkesan tidak terlalu matang, di balik itu ada keinginan mendalam untuk menemukan kembali jati diri mereka, dengan dukungan dari komunitas yang memberikan rasa diterima.

Kenapa Bisa Terlihat Lebih Heboh dari Remaja?

Jawaban atas pertanyaan ini sangat sederhana, karena puber kedua datang tanpa filter usia. Remaja masih dibatasi orang tua, norma, dan rasa takut. Sementara emak-emak? Sudah punya keberanian hidup. Mereka berani tampil. Berani berekspresi. Berani jadi pusat perhatian. Kadang terlalu berani-sampai logika ikut kabur. Bukan karena ingin merusak nilai, tapi karena akhirnya merasa “aku juga masih ada.”

Yang penting adalah kita tidak hanya melihat sisi negatif dari “puber kedua” yang diperkuat oleh media sosial. Alih-alih menyalahkan atau menganggap remeh, perlu ada pemahaman bahwa ini adalah fase transisi yang normal, dan media sosial menjadi wadah untuk mencari validasi yang mungkin tidak mereka dapatkan di lingkungan sekitar.

Dengan membimbing mereka untuk menggunakan media sosial dengan lebih bijak dan memverifikasi informasi sebelum berbagi, keberanian yang mereka miliki bisa diarahkan ke hal-hal yang bermanfaat, bukan hanya menjadi suara yang berisik tanpa dasar yang kuat.

Apakah Anda pernah melihat atau merasakan sendiri bagaimana interaksi di media sosial bisa memengaruhi sikap emak-emak di sekitar kita, atau mungkin ada cerita positif yang Anda tahu tentang bagaimana mereka menggunakan platform tersebut untuk hal yang baik?

Tanda-Tanda Puber Kedua Emak-Emak di Medsos

Tanpa menghakimi, berikut fenomena yang sering terlihat:

1. Lebih Aktif dari Anak Sendiri Upload tiap jam. Story panjang. Live tanpa jadwal. Komentar di mana-mana. Medsos jadi ruang utama, bukan sekadar hiburan.

2. Perubahan Gaya yang Mendadak Dari sederhana jadi ekstra. Dari “yang penting rapi” jadi “yang penting dilihat”. Filter berlapis, angle terbaik, dan caption penuh kode.

3. Haus Perhatian (Bukan Cinta Murahan). Perhatian di sini bukan selalu soal hubungan, tapi soal dianggap menarik, hidup, dan bernilai.

4. Mulai Penasaran dengan Lawan Jenis DM dibalas cepat. Komentar laki-laki jadi sorotan. Bukan karena ingin macam-macam, tapi karena lama tak merasa di-notice sebagai perempuan, bukan hanya ibu.

5. Emosi Lebih Terbuka di Publik Sedikit-sedikit curhat. Sedikit-sedikit sindir. Sedikit-sedikit drama. Medsos jadi ruang pelampiasan yang dulu tak pernah ada.

Sisi yang Jarang Dipahami

Banyak orang menertawakan. Sebagian mencibir. Sedikit yang bertanya: “Apa yang sebenarnya mereka cari?”

Puber kedua sering muncul karena kekosongan peran. Saat anak tak lagi bergantung. Saat pasangan tak lagi romantis. Saat hidup terasa monoton. Media sosial tidak menciptakan masalah-ia hanya membuka pintu ekspresi.

Antara Ekspresi dan Kesadaran

Menjadi berani tampil bukan dosa. Ingin merasa menarik bukan aib. Ingin diperhatikan bukan kesalahan. Yang penting adalah kesadaran.

Berani tampil tanpa kehilangan batas.

Aktif di medsos tanpa meninggalkan tanggung jawab. Menikmati validasi tanpa menjadikannya sumber harga diri. Karena puber kedua seharusnya jadi fase menemukan diri kembali, bukan kehilangan arah.

Fenomena puber kedua emak-emak di media sosial bukan untuk ditertawakan, tapi dipahami. la adalah cermin dari kebutuhan manusia yang paling dasar: diakui, dilihat, dan dirasakan keberadaannya.

Heboh bukan berarti salah. Berisik bukan berarti buruk. Sebab, Berani bukan berarti tak bermoral. Yang dibutuhkan bukan hujatan, tapi keseimbangan. Bukan larangan, tapi kesadaran.

Karena pada akhirnya, media sosial hanyalah alat. Yang menentukan arah tetaplah diri kita sendiri. Dan menjadi dewasa bukan berarti berhenti ingin hidup-tapi belajar bagaimana hidup tanpa kehilangan kendali.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel