Hery Nabit menegaskan, yang ia mau omong itu jaga netralitas. “Kalau netralitas mungkin terlalu tinggi maksudnya bahwa netralitas itu bukan berarti kita punya dukungan. Ada dukungan tapi jaga mulut. Kenapa jaga mulut, karena mulut itu melukai, karena kata itu melukai.”
Walaupun, ujar Hery Nabit, dalam tradisi Manggarai, ada istilah teti tuak, poto koles bo tombo (minta maaf), benar memang minta maaf tapi terlanjur sudah melukai yang bisa membekas di orang lain.


“Mungkin kamu menilai saya omong ini karena dendam, bukan. Bukan dendam. Tapi saya mau supaya pilkada berikut jangan begitu lagi. Begitu maksudnya. Bukan saya dendam karena tidak dipilih, toh saya yang menang, kamu kalah.”

Juga bukan marah-marah, supaya kau jangan begitu lagi nanti. “Anda untung kena saya. Kalau yang menang orang (ini) gila kau habis dong. Jadi jangan berpikir ini soal pilih yang lalu, bukan. Ini soal pemilu berikut, soal pemilu berikut.” Tegas Hery Nabit.
Sudah, kalau kau sudah punya dukungan ya sudah kau tenang-tenang saja, omong baik saja dengan kau punya politik. Tapi kalau kau maki saya, ini persoalannya. Sekali lagi, kata-kata itu melukai, dan hati-hati dengan kata-kata.
“Jangan kira yang pegawai-pegawai omong saya tidak tau, pegawai maki juga saya dengar. Apa yang saya tidak tau di Manggarai ini, saya bupati jadi saya tau semua, siapa selingkuh dengan siapa saya tahu. Semua informasi itu masuk ke saya. Satu orang istri tiga saya tau, malam ini ke sini, malam berikut ke situ, tau saya. Tapi, sebagai pemimpin, ada hal yang saya harus omong dan ada hal yang tidak harus saya omong.”
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel












