Sebab itulah, amatlah dimaklumi jika perang narasi dan adu lihai dalam benturan opini mesti digencari penuh sengit dan serius. Tak perlulah panjang lebar untuk bicara soal etika-moral politik. Tema dosa itu tak ada ruang dan tempat di wadah politik. Sebab demi kemenangan, orang hanyalah konsen dalam perang strategi. Dan kini lagi menanti penetapan sah atas kemenangan.
Di hari-hari ini, ‘dulu musuh kini sahabat, dulu benci sekarang rindu, dulu kontra kini pro, dulu dihujat sekarang disanjung selangit’ diputar ulang. Namun, apalah gunanya semua itu? Sebab di alam politik toh orang sudah terlatih untuk berlicin lincah demi kepentingan. Iya, itu tadi, semuanya tentang kekuasaan dengan segala imbas kenikmatan di baliknya.
Mari kita berselancar ke gelombang Jokowi
Tetapi, di hari-hari ini, ‘kegesitan naluri politik Jokowi juga sungguh diuji.’ Telah berjibakutainya Jokowi yang sekian menderang demi Prabowo-Gibran, itu tak sekedar untuk terus bersinarnya sebuah dinasti politik. Tidak hanya itu! Tidak juga demi kesinambungan cita-cita politik bangsa dan negara. Sebab, siapapun Presidennya, ia toh tetaplah diamanatkan oleh bangsa dan negara untuk amankan cita-cita Proklamasi.
Jelasnya?
Jokowi sebenarnya lagi bongkar pasang peta politik tanah air demi nasibnya sendiri pasca kekuasaan. Setangguh apapun nanti pengaruh Gibran, andaikan misalnya Prabowo (Presiden) mulai ‘angkat tumit’ dan ‘balik badan’ dari Jokowi, ayahnya? Maka Soft landing seperti apakah yang bakal dialami Jokowi, sementara musuh-musuh politik tetap mengincar nasib akhir kekuasaannya yang ambruk?
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel
Tinggalkan Balasan