Merah Putih di Meja Makan

Lihatlah wajah NTT hari ini, Provinsi yang kaya dengan tradisi, budaya, dan keindahan alam, tetapi juga salah satu wilayah termiskin di Indonesia. Angka kemiskinan kita, masih sekitar 19 persen—dua kali lipat dari rata-rata nasional. Di mana anak-anak belajar? Di sekolah-sekolah yang jaraknya berpuluh kilometer, dengan fasilitas minim, dan internet yang masih menjadi kemewahan. Ketika anak-anak kota belajar coding dan robotik, anak-anak NTT berjuang melawan keterbatasan teknologi dan akses.

Dalam dunia kesehatan, pembangunan gedung-gedung rumah sakit megah bukan jaminan layanan prima. Di berbagai daerah termasuk kita di NTT, kekurangan dokter spesialis menjadi penghalang utama. Pasien harus menempuh perjalanan jauh ke ibu kota provinsi, atau bahkan ke Pulau Jawa, demi harapan hidup yang lebih baik. Di tengah laju pembangunan, kenapa suara-suara kecil dari sudut-sudut negeri masih sulit didengar?

Tan Malaka, sang pemikir besar, mengingatkan kita: “Kemerdekaan nasional hanyalah jembatan.” Sebuah jembatan panjang yang menghubungkan kita dengan tujuan utama—keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat. Jembatan itu belum tuntas, bahkan masih banyak jalan berlubang dan tanjakan curam yang harus dilalui.

Pendidikan dan kesehatan, dua pilar utama kemerdekaan, masih menjadi medan pertempuran. Sekitar 20 ribu sekolah di Indonesia belum terhubung internet, meninggalkan jutaan anak di pelosok semakin jauh dari kemajuan zaman. Sementara di perkotaan, anak-anak sudah menulis kode, memahami algoritma, dan merangkai masa depan digital.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel