Lonto Leok, Warisan Budaya Demokrasi

Lonto Leok

Term lonto leok berasal dari kata lonto yang berarti duduk dan leok yang berarti melingkar. Secara literer lonto leok berarti duduk melingkar. Tradisi duduk melingkar merupakan suatu khazanah budaya yang sebenarnya sesuai dengan model atau bentuk rumah adat orang Manggarai, juga sepadan dengan letak lahan pertanian di lingko.

Masyarakat Manggarai, memahami istilah ‘lonto leok, atau lonto cama’ juga sebagai tradisi kumpul bersama atau musyawarah yang dilakukan oleh beberapa orang.

Lonto leok merupakan warisan budaya yang mana para tokoh masyarakat berkumpul bersama dan membangun ruang perjumpaan untuk membahas hal-hal mengenai cita-cita dan mengevaluasi kehidupan.

Lonto leok menjadi media untuk saling bertukar pikir, bercerita, bersenda gurau, bertukar pengalaman dan pengetahuan tentang fenomena kehidupan. Pada Lonto leok menekankan nilai kebersamaan dan pentingnya perjumpaan langsung dalam hidup sebagai medium untuk solider.

Bahwa Lonto leok merupakan contoh perjumpaan empat mata antarmuka, atau perjumpaan face to face.

Acara Lonto Leok Generasi Muda Kampung Lawi dan Keluarga Besar Lawi, pada kesempatan ini, diprakarsai oleh kaum muda asal kampung Lawi itu sendiri dan didukung oleh semua Generasi Lawi yang berdomisili di kota Ruteng dan sekitarnya.

Hadir dalam acara tersebut adalah semua kaum muda dan mudi asal Kampung Lawi, para mahasiswa/wi asal Lawi yang menyenyam pendidikan di kota Ruteng, para pelajar, dosen Unika. St. Paulus Ruteng asal Lawi, para pendidik asal Lawi, dan semua tokoh-tokoh penting Lawi yang berdomisili di Ruteng dan sekitarnya.

Laman: 1 2 3 4 5

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses