Sementara solusi jangka panjang, lanjutnya, melakukan penanaman pohon di sumber-sumber mata air. Selain itu pihaknya juga mencari sumber-sumber mata air baru.
‘’Memang ada informasi sumber mata air dari masyarakat, tetapi kita cek dulu kualitas airnya, kan ada standarnya, apa air ini bisa dikonsumsi atau tidak. Tidak mungkin kami alirkan air yang tidak layak atau tidak memiliki kualitas kepada masyarakat,’’ ujarnya.


Dirut Marsel Sudirman menambahkan, Standar Operasional Prosedur (SOP) tiap tahun juga diukur. Ukurnya di musim hujan yang tinggi dan musim kemarau sehingga bisa diketahui debit airnya berkurang atau bertambah.

‘’Dan orang-orang yang mengukurnya ada pendidikannya, ada bimteknya, ada aturannya juga untuk mengukur. Ini metode ( mengukur) berlaku di seluruh Indonesia, bukan kita karang-karang,’’ tegasnya.
Lebih lanjut Marsel Sudirman menerangkan keadaan terkini debit air di 13 mata air :
1. Wae Reget pada tahun 1989 ketika awal mula digunakan dan diukur tahun 2022 kapasitas sumber sebesar 8 liter/detik, lalu berkurang pada pengukuran tahun 2024 sebesar 1,4 liter /detik. Melayani 926 rumah tangga.
2. Sumber mata air Wae Ajang diukur tahun 2022 sebesar 8 liter/ detik. Setelah diukur tahun 2024 hanya 4,61 liter. Melayani 1.149 rumah tangga.
3. Wae Watang diukur tahun 2022 sebesar 2 liter/detik. Pada tahun 2024 hanya 0,81 liter /detik. Jumlah pelanggan 820 rumah tangga.
4. Wae Lerong 1 diukur tahun 2022 kapasitas 8 liter/detik menurun menjadi 3,34 liter/detik pada tahun 2024. Melayani 1.435 rumah tangga.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel












