Ki Hadjar Dewantara

Ki Hadjar Dewantara

ANAK YANG BANDEL

Ki Hadjar Dewantara sewaktu kecil bernama Raden Mas Suwardi Suryaningrat dan ia lahir di Yogyakarta tanggal 2 Mei 1899. Ayahnya bernama Pangeran Suryaningrat, putra sulung Adipati Paku Alam III. Ibunya seorang putri Kraton Yogyakarta. Sang ibu memiliki keahlihan mengobati orang sakit dan ibadahnya yang kuat.
Dari silsilah itu, Suwardi adalah seorang priyayi atau ningrat. Namun ia tidak suka dianggap sebagai priyayi. Ia bergaul dengan anak biasa. Temannya pun berterima kasih kepada Suwardi dan ia berkata “Lain kali begini lagi ya, Den Mas!”. “Memang kamu suruh aku jadi pencuri?” Kata Suwardi. “Inikan sama saja mencuri!” Suwardi pun terseyum malu.
Suwardi dan teman-teman sering berkelahi melawan para Sinyo. Sinyo yaitu anak laki-laki Belanda. Karena Sinyo suka menghina atau bertindak semena-mena kepada orang pribumi.
Suatu siang, ketika pulang sekolah, ia melihat Sutartinah diganggu Karel dan teman-temannya, anak orang Belanda. “Hei Karel! Sinyo jahat, jelek! Kalau berani hadapi aku jangan ganggu Sutartinah.” Tantang Suwardi dengan marah. “Lawan saja Karel!” Teriak kawan dari Belanda. Berapa kali Sinyo ditamparnya.
Akhirnya perkelahian itu bubar. Suwardi dan Sutartinah dipangil polisi Belanda. Sejak saat itu mereka berdua menjalin hubungan baik. Sutartinah adalah anak pamannya sendiri, Pangeran Sastraningrat.
Mula-mula Suwardi masuk ELS atau Sekolah anak orang-orang Belanda dan anak ningrat. Setelah lulus, ia melanjutkan ke Stovia atau Sekolah Dokter Jawa di Batavia (Jakarta).
Sekolah di Stovia tidak sampai tamat karena beasiswanya dicabut karena ia jarang masuk karena sakit.

DIBUANG KE NEGERI BELANDA

Setelah berhenti dari sekolah Stovia, Suwardi lalu berpindah-pindah kerja. Mula-mulanya di pabrik gula. Tidak lama kemudian pindah ke Apotek.
Pada waktu itu, Suwardi sudah sibuk membantu menulis karangan untuk surat kabar De Expres. Karena kesibukannya menulis itu, maka ia menjadi teledor akan pekerjaan di apotek. Ia lalu dipecat.
Kemudian ia bekerja di dunia persuratkabaran. Atas ajakan Douwes Dekker, yang memimpin De Expres, Suwardi lalu pindah ke Bandung. Douwes Dekker seorang Indo. Ayahnya Belanda, ibunya orang Jawa. Ia slalu mengaku orang Jawa bukan Belanda.
Tahun 1912, bersama-sama Dr Cipto dan Douwes Dekker ia mendirikan partai Idische Partij. Partai ini bertujuan mencapai Indonesia yang merdeka.
Semboyan pada saat itu yang terkenal ialah “Rawe-rawe rantas, malang-malang putung” yang artinya dengan keteguan tekad dan iman segala rintangan akan hancur, musna. Apa saja yang menghalangi akan diterjang.
Semboyan ini benar-benar dilaksanakan. Karena Suwardi marah, akhirnya ia menulis surat lembaran berjudul seandainya aku seorang Belanda.
“…Andaikata aku orang Belanda, aku tidak merayakan perayaan itu dalam negeri yang kami datang. Pertama kami harus memberikan kemerdekaan bagi bangsa yang kami jajah. Barulah kami melaksanakan perayaan itu. Cintailah kemerdekaan karena bahagia rakyat yang merdeka bebas dari penjajahan.”
Surat lembaran itu dibuat 5000 lembar. Kemudian disebar luaskan. Akibat dari itu, pada September 1913, Douwes Dekker, Dr. Cipto Mangunkusumo dan Suwardi bersama istri dibuang ke Belanda.

MENDIRIKAN PERGURUAN TAMAN SISWA

Selama di Belanda untuk memenuhi kebutuhan, Suwardi menulis di berbagai surat kabar dan mendapatkan imbalan uang. Sementara Sutartinah bekerja dan menjadi guru Taman Kanak-kanak.
Sutartinah sangat tertarik dengan pendidikan. Karena itu, ia menyarankan suaminya untuk pindah ke bidang pendidikan. Menurutnya berjuang bukan hanya lewat politik tetapi dapat juga di bidang pendidikan.
Suwardi pun menuruti saran dari istrinya. Akhirnya ia mengikuti pendidikan sekolah guru di Belanda sampai tamat. Di samping belajar, Suwardi juga banyak membaca buku pendidikan. Ia mengagumi tokoh pendidikan dunia seperti Montessori dari Italia dan Rabindranath Tagore dari India.
Rabindranath Tagore menjelaskan bahwa manusia itu harus bebas dan merdeka tanpa terikat apapun. Hanya terikat oleh zaman dan alam yang terus berkembang bebas menciptakan apa saja. Jangan pandai meniru dan mengikut. Pendapat dua tokoh itu cocok dengan apa yang sedang dipikirkan Suwardi.
Tahun 1919, Suwardi kembali ke Indonesia setelah 6 tahun ia dibuang di Belanda. Ia lalu mencurahkan perhatian ke pendidikan. Sehingga tahun 1922 Suwardi mendirikan Perguruan Taman Siswa. Yang bercorak nasional, mencintai tanah air dan bangsanya, untuk memperoleh kemerdekaan.
Ajaran pendidikan Taman Siswa bertumpu pada; tumbuh mengenai kodrat yang disebut sistem among. Among atau pengasuh berarti mempercayai anak untuk bergerak leluasa. Tetapi bukan dibiarkan begitu saja. Guru harus memiliki keberanian dan kebijaksanaan.
Suwardi memberikan ajaran yang terkenal yaitu, ing ngarsa sung tulada, ing madya mangan karsa, tut wuri handayani. Artinya, seseorang apabila berada sebagai pemimpin atau guru, di depan hendaknya dapat menjadi contoh yang baik, bila berada di tengah harus menjadi penggerak, sedangkan dari belakang harus menjadi pendorong dan pengarah.
Pemerintah Belanda mulai cemas dengan berdirinya Taman Siswa. Dianggap berbahaya karena mendidik siswa untuk berjuang merebut kemerdekaan. Tahun 1932, Pemerintah Belanda mengeluarkan peraturan yang disebut Ordonansi Sekolah Liar yaitu sekolah yang tidak dibiayai Pemerintah sebelum didirikan harus mendapat izin dari yang berwajib, baik mengenai sekolah maupun guru.

BAPAK PENDIDIKAN INDONESIA

Ki Hadjar Dewantara sangat marah. Ia lalu protes kepada Gubernur Jenderal di Batavia. Padahal pendidikan itu sangat penting untuk memajukan  bangsa. Perkumpulan Budi Utomo dan Perserikatan Pasundan lalu mengecam Belanda. Akhirnya Pemerintah Belanda mencabut peraturan itu.
Pada zaman Jepang 1944, waktu murid SMP Taman Siswa di Yogyakarta berjumlah 3000 tetapi oleh Jepang dibubarkan. Taman Siswa hanya boleh mendirikan kejuruan saja.
Pada waktu itu anak-anak pribumi mulai merasakan keuntungannya. Dengan adanya Taman Siswa, meraka dapat menikmati pendidikan untuk mencari ilmu pengetahuan.
Ki Hadjar Dewantara  yang selama ini ikut berjuang amat besar. Apa yang dicita-citakan telah tercapai. Ia pun diangkat menjadi menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan RI yang pertama.
Setelah zaman kemerdekaan tiba, Taman Siswa kembali bangkit dan melebarkan sayapnya. Perguruan ini mempunyai istilah sendiri dalam jenjang pendidikan. Sekolah dasar disebut Taman Indria, SMP disebut Taman Dewasa, SMU disebut Taman Madya dan Perguruan Tinggi disebut Sarjana Wiyata.
Sebutan guru menjadi Ki untuk menganti bapak. Selain Ki Hadjar Dewantara tokoh Taman Siswa lainnya ialah Ki Muhammad Said, Ki Suratman, Ki Nayoko, Ki Harun Alrasyid, Ki Suprapto, dan yang lain.
Untuk menghormati perjuangan dan jasa-jasanya di dunia pendidikan, Ki Hadjar Dewantara diangkat sebagai Bapak Pendidikan Indonesia. Sedangkan peringatan hari lahirnya sebagai Hari Pendidikan.
Ki Hadjar Dewantara wafat pada tahun 1959 di Yogyakarta. Jenasahnya dimakamkan di Pemakaman Wijayabrata yaitu makam Keluarga Taman Siswa.
error: Sorry Bro, Anda Terekam CCTV