Gelap Itu Bukan Hitam, Tapi Karena Ketiadaan Cahaya

Lihatlah prosedur layanan:
Ada SOP, tetapi tak ada SOP untuk mendengar dengan hati.
Ada target waktu pelayanan, tapi tak ada indikator untuk sentuhan manusiawi.
Ada evaluasi kinerja, tapi tak ada penilaian pada rasa aman yang dibawa pasien pulang.

Seperti ketika seorang nenek buta huruf ditegur karena formulirnya belum lengkap. Atau ketika seorang anak muda hanya diberi kode “rujukan” tanpa penjelasan.

Bagi mereka, gelap itu bukan tak bisa disembuhkan, tapi karena tak ada satu pun yang menyalakan cahaya kepedulian. Pelayanan publik, jika tak dikoreksi oleh nurani, hanya akan jadi mesin administrasi.
Dan ruang pelayanan tanpa empati adalah ruang tunggu menuju frustrasi kolektif.

Kita tidak perlu revolusi besar, hanya butuh lilin-lilin kecil.
Senyum dari petugas pendaftaran.
Sapaan hangat dari perawat.
Waktu dua menit dari dokter untuk mendengar, bukan hanya menjelaskan.
Dan kehadiran kader kesehatan yang bukan hanya penyuluh, tapi penyambung rasa.

Karena pada akhirnya, Puskesmas bukan hanya tempat menyembuhkan sakit. Tapi tempat seseorang merasa tidak sendiri menghadapi hidup.

Dan bila cahaya itu dinyalakan, maka gelap itu akan terbukti:
Bukan karena kita hitam,
Tapi karena kita lupa menjadi terang bagi satu sama lain.

#PelukSehat
#DinkesManggarai
#RumahSakitnyaManusia

Laman: 1 2

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses