Dulu Sempat Tolak, Yohanes Rumat Akhirnya Nyatakan Dukung Geothermal di Flores

Ruteng, infopertama.com – Politisi PKB, anggota DPRD Provinsi NTT, Yohanes Rumat akhirnya menyatakan mendukung setiap proyek energi alternatif, energi baru terbarukan (EBT) Panas Bumi atau Geothermal yang ada di pulau Flores.

Pernyataan itu Yohanes Rumat kemukakan usai dirinya dan rombongan anggota DPRD NTT mengujungi lokasi PLTP Ulumbu yang ada Ulumbu, desa Wewo, kecamatan Satar Mese, Selasa, 10 Juli 2024.

Yohanes Rumat secara terus terang mengatakan bahwa pada awalnya ia mendukung agenda menolak geotermal.

“Akan tetapi, setelah mendengar penjelasan komprehensif PLN baik secara konsep maupun teknis serta pengakuan dari masyarakat, saya menjadi percaya bahwa geotermal harus didukung karena merupakan kebutuhan masyarakat dan zaman.” Tegas Rumat, Politisi PKB.

Ketahui, rombongan anggota dewan DPRD NTT ini terdiri dari 5 orang anggota, yakni Angela Merci Piwung, SH sebagai Ketua Komisi IV bidang Pembangunan; Yohanes Rumat, SE sebagai anggota Komisi II bidang Perekonomian; Jimur Siena Katrina sebagai anggota Komisi V bidang Kesejahteraan Rakyat;  Pdt. Drs. Junus Naisunis sebagai anggota Komisi IV dan  Drs. Johanis Lakapu, M.Si sebagai anggota Komisi V.

Komposisi sesuai tupoksi, kelima anggota dewan ini merupakan Gabungan Komisi yaitu Perekonomian, Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat. Dalam kaitannya dengan pembangunan dan pengembangan geotermal, ketiga Komisi ini berkaitan langsung dengan proyek terkait.

Tujuan kedatangan para wakil rakyat NTT tersebut untuk meninjau secara langsung PLTP Ulumbu yang telah beroperasi sejak 2012. Sebagai pembicara dan penyambung aspirasi rakyat, mereka menggali informasi terkait geotermal beserta rencana-rencana pengembangan PLTP Ulumbu di wilayah Pocoleok.

Adapun kunjungan anggota  DPRD NTT di lokasi PLTP Ulumbu bersifat studi banding sekaligus cross check fakta lapangan.

Sebagaimana dituturkan Mersi Piwung selaku Ketua Komisi IV bahwa kunjungan mereka ke PLTP Ulumbu berdasarkan aspirasi masyarakat melalui mahasiswa yang akhir-akhir ini kerap melakukan demonstrasi di Kupang dengan agenda menolak geotermal.

Ia menjelaskan kehadirannya dan anggota dewan yang lain hendak menguji apakah aspirasi-aspirasi menolak geotermal yang disampaikan para pendemo benar-benar nyata di lapangan.

Yohanes Rumat
Yohanes Rumat dan kawan-kawan anggota DPRD NTT saat mengunjungi PLTP Ulumbu di Wewo, Satar Mese.

Namun, kata Merci Piwung, setelah mendengar informasi langsung di lapangan baik dari PLN, Kepala Desa hingga masyarakat sekitar, para anggota dewan cukup kaget karena aspirasi penolakan seperti perusakan lingkungan, gagal panen hingga masalah kesehatan seperti kudis tidaklah benar.

“Kenyataannya adalah geotermal seperti PLTP Ulumbu tidaklah berdampak pada perusakan lingkungan ataupun pada kesehatan.” Ungkap Piwung, Selasa, 10 Juli 2024.

Sementara, Anggota Dewan Pendeta Junus Naisunis lebih lanjut menerangkan bahwa geotermal sebagai investasi jangka panjang untuk masa depan pemerintah daerah. Dijelaskannya bahwa energi geotermal yang memanfaatkan panas bumi untuk listrik bukan tidak mungkin akan menjadi energi alternatif yang dapat menggantikan energi-energi yang mengandalkan fosil.

Selain membahas konsep dan teknis dalam pemanfaatan geotermal beserta dampak-dampak terhadap lingkungan dan kesehatan, para anggota Dewan NTT juga menanyakan serapan tenaga kerja lokal di PLTP Ulumbu.

Terkait hal ini dijelaskan Manager Pengelola PLTP Ulumbu Bapak Hosnan bahwa penyerapan tenaga kerja lokal mencapai 96,94% dan hanya 3,06% tenaga kerja luar.

Hosnan melanjutkan, tenaga kerja di PLTP Ulumbu berjumlah 98 orang dengan rincian 95 orang warga NTT dan 3 orang warga dari luar NTT. “Dari 95 pekerja lokal NTT terdapat 83 pekerja warga Manggarai dengan komposisi 39 orang pekerja Satarmese. Sementara itu, terdapat 12 orang pekerja berasal dari luar Manggarai.” Ujar Hosnan.

Serapan tenaga kerja lokal yang begitu tinggi membuat para anggota Dewan NTT mengapresiasi menajemen PLTP Ulumbu. Anggota Dewan Mersi Piwung menuturkan bahwa fakta ini akan kami sampaikan kepada masyarakat terutama kepada adik-adik mahasiswa yang hingga kini demo tolak goetermal.

Piwung menjelaskan bahwa penyerapan tenaga kerja lokal sebenarnya menjadi salah satu aspirasi yang disampaikan para pendemo ketika beraudiensi dengan DPRD Provinsi di Kupang. Untuk diketahui bersama, Ibu Mersi inilah yang melakukan audiensi langsung dengan para pendemo.

Pada akhirnya para Anggota Dewan yang merupakan Gabungan Komisi tersebut tanpa ragu mengatakan akan mendukung geotermal di wilayah NTT. Mereka bersedia untuk membantu PLN melakukan penyebarluasan wawasan tentang geotermal baik melalui audiensi dengan mahasiswa yang membawa agenda tolak geotermal maupun turun langsung ke lapangan untuk menemui masyarakat.

“Terutama sekali masyarakat yang hingga kini masih menolak dengan prinsip “pokoknya” seperti di wilayah Pocoleok dan Atadei.” Tegas Mersi Piwung.

Saran Anggota DPRD NTT ke PLN

Setelah menyatakan dukungan terhadap proyek geotermal di wilayah NTT, para anggota Dewan Provinsi tersebut juga menyampaikan saran-saran konstruktif kepada PLN.

Anggota Dewan Seina Katrina menyarankan PLN supaya dalam tahap pembebasan lahan untuk keperluan Geotermal sebaiknya dilakukan secara serempak sejak awal.

“Tidak boleh dilakukan secara bertahap seperti sekarang ini. Misalkan, rencana pembangunan di wilayah A. Kalau semisal di wilayah B dan C ada potensi panas bumi yang dapat dimanfaatkan maka langsung dibebaskan sekaligus supaya tidak terjadi gejolak seperti sekarang ini.” Pinta Seina, ketua DPC PAN Manggarai itu.

Anggota Dewan Johanis Lakapu menyarankan PLN supaya selalu mengedepankan pendekatan kultural ketika hendak melakukan pembangunan geotermal di wilayah NTT. Ia menerangkan bahwa masyarakat NTT masih kental dengan adat dan budaya sehingga pintu masuk supaya diterima dengan baik oleh masyarakat ialah melalui adat.

Saran Bapak Johanis kemudian dipertegas oleh Ibu Mersi bahwasannya perlu terlebih dahulu menemui tua-tua adat di wilayah bersangkutan ketika hendak membangun PLTP.

Pertemuan bersama Gabungan Komisi DPRD NTT berlangsung di ruang rapat PLTP Ulumbu. Rapat ini dihadiri PLN Nusra 2, Kepala Desa Wewo, Tokoh Pemuda dan beberapa perwakilan Mitra penerima manfaat PLN dari desa-desa sekitar.

Di dalam pertemuan yang berlangsung dengan suasana kehangatan itu para wakil rakyat NTT tersebut secara serius meminta penjelasan dari PLTP Ulumbu terkait dampak-dampak buruk yang terjadi akibat pengoperasian PLTP Ulumbu.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

error: Sorry Bro, Anda Terekam CCTV