Fenomena perundungan digital, budaya cancel, hingga pertengkaran politik di media sosial menunjukkan betapa mudah manusia kehilangan kejernihan ketika emosi mengambil alih. Orang lebih cepat marah daripada memahami. Lebih mudah menghakimi daripada mendengar penjelasan secara utuh. Akibatnya, ruang publik dipenuhi kebisingan, tetapi miskin percakapan yang jernih. Ironisnya, kebencian sering datang dengan wajah yang tampak bermoral. Ia hadir melalui kalimat-kalimat yang terdengar peduli, padahal diam-diam menyimpan prasangka. Dari percakapan kecil itulah jarak tumbuh, kecurigaan membesar, lalu permusuhan dipelihara seolah-olah sebagai kebenaran.
Padahal, sebagaimana daun kering di mata, yang tertutup sering kali bukan kenyataan itu sendiri, melainkan kejernihan cara pandang manusia. Dunia tidak selalu seburuk yang kita kira. Kadang-kadang yang gelap hanyalah hati yang terlalu lama dipenuhi prasangka.
Karena itu, tantangan manusia modern mungkin bukan sekadar menjadi pintar berbicara, melainkan tetap mampu melihat dengan jernih di tengah banjir opini, amarah, dan kebencian yang terus diperdagangkan setiap hari.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel

Tinggalkan Balasan