Oleh: Aji Priyo Utomo
infopertama.com – Selembar daun kering yang jatuh tidak akan mampu menutupi bumi. Ia terlalu kecil dibanding luasnya dunia. Namun apabila daun itu jatuh tepat di mata manusia, seluruh kenyataan dapat mendadak tampak gelap. Bukan karena dunia berubah, melainkan karena cara melihat yang terganggu.
Barangkali demikian pula kebencian bekerja di dalam diri manusia. Ia sering lahir bukan dari peristiwa besar, melainkan dari luka kecil yang dipelihara terlalu lama, dari rasa iri yang disembunyikan, dari kekecewaan yang perlahan berubah menjadi prasangka. Pada awalnya tampak sepele. Namun ketika telah menetap di hati, ia mengubah cara manusia memahami kenyataan.
Kebaikan dicurigai sebagai kepura-puraan. Kepedulian dianggap pencitraan. Bahkan diam dapat diterjemahkan sebagai ancaman. Manusia akhirnya tidak lagi melihat dunia sebagaimana adanya, melainkan melihat pantulan dari isi hatinya sendiri.
Filsafat sejak lama mengingatkan bahwa manusia bukan hanya makhluk yang berpikir, tetapi juga makhluk yang menafsirkan. Friedrich Nietzsche menyebut bagaimana ressentiment dendam yang dipelihara diam-diam sehingga dapat mengubah penilaian moral manusia. Kebencian membuat seseorang tidak lagi mencari kebenaran, melainkan mencari pembenaran atas apa yang ingin dipercayainya.
Di era digital, keadaan ini menemukan ruang hidup yang semakin luas. Media sosial membuat reaksi bergerak lebih cepat daripada refleksi. Potongan video, cuplikan percakapan, atau satu unggahan singkat kerap cukup untuk menghukum seseorang di ruang publik. Dalam hitungan jam, prasangka menyebar menjadi keyakinan massal.
