Cepat, Lugas dan Berimbang

Budaya Tengge dan Deng Warisan Leluhur yang terus DILESTARIKAN

Namun tengge bisa gunakan oleh laki-laki pada umumnya, baik oleh anak-anak, remaja, dewasa dan orang tua pada acara adat, sanggar budaya, pesta inkulturasi budaya khususnya pada acara basuh kaki 12 rasul dalam Misa Kamis Putih sebagai bagian perayaan Tri Hari Suci.

Dalam acara inkulturasi budaya membasuh kaki 12 Rasul oleh Yesus, maka memilih lakon peran Rasul yang waktu Misa Kamis Putih semuanya adalah berjenis kelamin laki-laki dewasa, atau orang tua, sehingga menggunakan tengge sebagai inkulturasi budaya.

Tengge dan Deng
Tengge dan Deng di area Rumah Adat Todo. (Foto: Facebook)

Dan, cara untuk mengikat kain sarung yang dipakai waktu tengge yaitu dengan melilit sisa lebar kain di bagian pinggang sampai terikat kuat pada setengah badan tanpa menggunakan ikat pinggang (bantuan kain lain).

Namun fenomena saat ini, deng dan tengge jarang digunakan dalam keseharian. Kebanyakan orang bertamu dengan celana pendek atau celana panjang. Dan, untuk perempuan kebanyakan memakai celana rock (celana jeans).

Fenomena saat ini penggunaan deng dan tengge hanya dominan pada acara adat, danggar budaya.

Padahal, semestinya jika kita menelaah sisi lainnya, deng dan tengge dapat meningkatkan ekonomi masyarakat.

Dengan membiasakan diri dengan deng dan tengge sehingga produk lokal (menenun) diberdayakan dan menambah penghasilan bagi pengrajin tenun.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel