“Hari ini kita tidak hanya membuka sebuah festival, tetapi membuka ruang kreativitas, ruang pembelajaran, ruang perjumpaan, dan ruang pemberdayaan bagi kaum muda. STIE Karya hadir untuk membentuk generasi yang kreatif, inovatif, berkarakter, dan mampu memberi dampak bagi Manggarai,” ujarnya.
Menurutnya, kaum muda merupakan kekuatan utama dalam menentukan masa depan daerah. Karena itu, kreativitas dan inovasi mereka perlu terus didorong melalui berbagai kegiatan yang memberikan pengalaman nyata dalam dunia usaha.
Ia menjelaskan bahwa Festival Kuliner III menjadi laboratorium kewirausahaan yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar secara langsung, mulai dari merancang produk, menghitung biaya produksi, menentukan harga, membangun kerja sama, melayani pelanggan, mempromosikan produk, hingga memahami peluang pasar.
Mariyati Helsako Mutis juga menegaskan bahwa kuliner bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari identitas budaya, sumber ekonomi, dan peluang usaha yang memiliki prospek besar apabila dikelola secara kreatif.
“Kita memiliki kekayaan pangan lokal, tradisi, dan kearifan masyarakat Manggarai yang harus terus dikembangkan menjadi produk kuliner yang sehat, menarik, memiliki nilai jual, dan mampu bersaing di pasar,” katanya.
Selain aspek kewirausahaan, festival ini juga mengangkat pentingnya kesehatan jasmani sebagai fondasi bagi lahirnya generasi muda yang produktif, tangguh, dan berdaya saing.
Ia mengajak mahasiswa agar tidak takut memulai usaha dari skala kecil, karena keberhasilan lahir dari kemauan belajar, ketekunan, kreativitas, kejujuran, dan semangat untuk terus berkembang.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











