Cepat, Lugas dan Berimbang

Laki-Laki Itu Lebih Suka Mengejar Keindahan Palsu Daripada Kenyataan Pahit

infopertama.com – Ini hanya coretan seadanya, pengalaman beberapa orang di luar sana yang mungkin bisa jadi mewakili lebih banyak orang lagi. Tapi, yang pasti tidak sepenuhnya mewakil saya.

Begini Pak, kita ini laki-laki kalau sudah kepala lima, perut mulai duluan nongol, rambut rontok, tapi dompet alhamdulillah mulai berisi… biasanya penyakitnya bukan masuk angin.

Penyakitnya itu satu, Merasa mampu.

Begitu merasa mampu, mulai deh otaknya sok jadi koboi. Lewat cewek zaman sekarang pakaian minimalis, puser kelihatan, celana gemes, jalan sambil goyang tipis-tipis… kita ini pura-pura lihat tapi malu.

Padahal dalam hati: “Wah ini sih body pas banget…” Tapi mulut sok alim, “Zaman sekarang ya pakaiannya aneh-aneh.”

Ini tidak semua lelaki. Saya bukan. Saya cuma kadang saja melirik. Refleks. Namanya juga mata, belum ada fitur parental control.

Lelaki Mapan Itu Merasa Jadi Sultan Dadakan

Kalau masih susah, masih mikir cicilan, alim banget. Lihat yang bening lewat, paling cuma istighfar setengah hati.

Tapi begitu cicilan lancar, tabungan ada, mobil sudah bukan kredit lagi… mulai muncul suara kecil dalam hati:

“Kayaknya hidup ku kurang warna nih…”

Lelaki kalau sudah merasa aman dompet, kadang merasa punya tiket VIP untuk menikmati “keindahan dunia”. Berasa jadi sultan, padahal di rumah tetap disuruh beli tabung gas.

Keindahan di luar itu selalu kelihatan lebih kinclong. Kenapa? Karena yang di luar belum pernah lihat kita pakai kolor bolong dan celana pendek karet nya sudah melar..

Di Rumah Kadang Bikin Mental Ciut

Di luar rumah: “Mas, senyumnya manis banget ya…” (padahal cuma basa-basi)

Di rumah:

“Pap, itu handuk basah kok di kasur lagi?” Satu kalimat itu bisa bikin lelaki mapan jadi goblok mendadak.

Kadang bukan soal fisik doang. Di luar itu suasananya ringan. Tidak ada tagihan listrik, tidak ada biaya sekolah anak, tidak ada teguran soal lupa bayar PDAM.

Padahal yang bikin rumah terasa pahit kadang bukan pasangan. Tapi kita yang kurang komunikasi, kurang perhatian, atau kebanyakan diam tapi ngambek.

Ini sedikit penjelasan kenapa lelaki bisa begitu:

1. Lelaki itu visual banget. Otak laki-laki cepat bereaksi pada rangsangan visual. Itu naluri dasar. Tapi naluri bukan alasan untuk jadi liar.

2. Ego gampang digelitik.

Kalau ada yang senyum, ketawa, atau kelihatan kagum, ego langsung mekar. Padahal di rumah istri kagum juga… cuma kagumnya beda: “Kok bisa lupa terus sih?”

3. Butuh dihargai, bukan cuma dikritik. Lelaki sering merasa di rumah lebih banyak evaluasi daripada apresiasi. Akhirnya cari tempat yang rasanya lebih “ringan”.

4. Keindahan semu itu bebas beban. Tidak ada cicilan. Tidak ada tanggung jawab. Itu yang bikin terasa menyenangkan.

Tapi ingat… yang bebas beban biasanya juga bebas komitmen.

Nah ini yang bahaya.

Begitu merasa punya uang, punya posisi, punya kuasa… muncul jiwa garangan. Berasa masih muda, padahal lutut sudah bunyi kalau naik tangga.

Kadang sok jadi cowboy. Jalan dada dibusungkan, minyak wangi disemprot dua kali lipat. Padahal di rumah cuma pakai sarung dan sendal jepit. Minyak angin dioles full body, lebih sering pakai Nona Mas.

Tapi percayalah, sehebat-hebatnya kita merasa jago di luar, satu bentakan di rumah bisa bikin kita mendadak goblok

“Coba ulangi tadi kamu ngomong apa?”

Langsung hilang semua aura sultan. Tinggal laki laki paruh baya yang oon.

Emak-Emak Jangan Kalah Gaya

Ini bukan nyalahin ya. Tapi kadang istri terlalu fokus jadi ibu rumah tangga sampai lupa jadi wanita yang dulu bikin deg-degan.

Padahal suami itu makhluk sederhana. Tidak minta yang aneh-aneh.

Kadang cuma perlu lihat istrinya pakai tanktop santai, rambut dilepas, senyum iseng sedikit…

Bukan bau minyak angin dengan koyok di jidat

Karena sebenarnya lelaki yang cari keindahan di luar itu bukan cuma cari fisik saja. Tapi cari rasa dihargai dan diperhatikan.

Jadi ya… kalau ditanya benar tidak lelaki suka keindahan semu?

Jawabannya: suka lihat. Bukan berarti harus ambil.

Keindahan semu itu seperti lihat mobil sport di jalan. Enak dilihat. Belum tentu sanggup dirawat.

Saya sih cuma cerita ya. Bukan saya kok. Saya mah alim… cuma kadang refleks saja.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

Â