Ruteng, infopertama.com – Di bawah naungan rumah gendang—simbol kebersamaan yang hidup dalam budaya Manggarai—umat KBG Santo Markus Mena berkumpul dalam suasana hangat dan penuh persaudaraan pada 24 Maret 2026 di Redong.
Sapaan akrab, senyum, dan canda ringan mewarnai pertemuan malam itu. Kunjungan pastoral (lejong) Tim Sinode B Paroki Ekaristi Kudus Ka Redong pada Selasa malam tersebut bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan momentum untuk meneguhkan bahwa sinodalitas sungguh hidup—berakar dalam budaya, bertumbuh dalam iman, dan nyata dalam karya pastoral Gereja.
Kegiatan ini dihadiri oleh umat dari berbagai kalangan: anak-anak, orang muda, kaum perempuan, hingga para lansia. Rumah gendang sebagai tempat pelaksanaan menjadi simbol yang kuat. Tiang utama yang terhubung dengan balok-balok lainnya mencerminkan kesatuan yang kokoh. Gambaran ini selaras dengan semangat sinodalitas, yakni Gereja yang berjalan bersama, saling terhubung, dan saling menguatkan dalam semangat komunio.
Dalam sesi lejong, Adam Musi dari Dewan Keuangan Paroki Ekaristi Kudus Ka Redong memberikan peneguhan tentang makna sinodalitas dalam kehidupan Gereja. Ia menekankan bahwa umat dipanggil menjadi teman seperjalanan, berjalan bersama menuju kehidupan yang lebih baik, baik secara rohani maupun jasmani. Dalam kebersamaan itu, setiap orang memiliki peran. Setiap orang dipanggil untuk ambil bagian.
Ia menegaskan, “Kolekte dan gesshar bukanlah beban, melainkan ungkapan iman atas kebaikan Tuhan.” Partisipasi umat dalam memberi hendaknya lahir dari kesadaran iman dan rasa syukur, bukan karena keterpaksaan.
Ia juga mengapresiasi kesungguhan umat KBG Santo Markus dalam gerakan gesshar—gerakan seribu rupiah setiap hari—yang secara akumulatif menunjukkan hasil yang signifikan. Namun demikian, nilai utama dari gesshar bukan terletak pada jumlah, melainkan pada iman dan syukur yang melatarbelakanginya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa paroki telah mengambil langkah konkret untuk merespons maraknya praktik pinjaman berbunga tinggi di tengah umat. Lahirnya Usaha Bersama Simpan Pinjam (UBSP) Santo Arnoldus Janssen merupakan buah dari keprihatinan yang muncul dalam kunjungan pastoral ke KBG-KBG pada tahun 2022.
Hingga saat ini, UBSP tersebut telah memiliki 114 anggota. Kehadirannya menjadi salah satu wujud kepedulian Gereja dalam membantu umat keluar dari jeratan ekonomi yang tidak sehat.
Di sisi lain, UBSP juga mendorong semangat kemandirian dan solidaritas. Untuk menjamin akuntabilitas dan transparansi, setiap anggota akan diberikan buku anggota serta pedoman kebijakan sebagai acuan bersama.
Adapun syarat untuk menjadi anggota UBSP Santo Arnoldus Janssen adalah sebagai berikut:
1. Simpanan pokok sebesar Rp100.000
2. Simpanan wajib Rp10.000
3. Simpanan sukarela Rp10.000
4. Uang pangkal Rp20.000
5. Dana solidaritas Rp10.000
6. Membawa KTP atau Kartu Keluarga
7. Mengisi formulir pendaftaran
Pada kesempatan yang sama, Pater Condrad mengajak umat untuk membiasakan diri membaca Kitab Suci, baik secara pribadi maupun dalam pertemuan KBG. Kebiasaan ini penting untuk memperdalam iman dan memperkuat kehidupan rohani di tengah dinamika hidup yang penuh tantangan.
Keterlibatan kaum muda juga menjadi warna tersendiri. Yulin, anggota Tim Kunjungan Pastoral sekaligus pengurus OMK, mengajak anak-anak dan orang muda untuk aktif dalam SEKAMI dan OMK Paroki Ekaristi Kudus Redong, sebab merekalah masa kini dan masa depan Gereja Katolik. Ia menjelaskan bahwa anak-anak akan didampingi para suster dalam belajar Kitab Suci dan doa di gereja setelah misa kedua.
Ia juga menyoroti pentingnya penggunaan media sosial secara bijak. Anak-anak perlu dibatasi dalam penggunaan gawai agar terhindar dari pengaruh negatif dan tetap aktif bersosialisasi.
Sementara itu, orang muda yang terlibat dalam OMK akan memperoleh banyak pengalaman berharga: belajar berdiskusi, membangun semangat diakonia, mengembangkan kreativitas seperti drama dan tablo, serta memperluas relasi pertemanan.
Ia turut membagikan pengalamannya bahwa keterlibatan aktif di OMK membantunya bertumbuh dalam keberanian berbicara di depan umum serta memahami tiga bidang utama pastoral Gereja: persekutuan, diakonia, dan pewartaan (katekese).
Dalam rangka meningkatkan keterampilan dan kebijaksanaan anak muda dalam menggunakan gawai, telah dilakukan pelatihan pembuatan konten kreatif di media sosial seperti TikTok. Bahkan, tahun ini akan diselenggarakan perlombaan konten TikTok bertema sinode sebagai sarana pewartaan iman yang kreatif dan relevan.
Dalam sesi berikutnya, Rikard dari Seksi PSE Paroki memaparkan berbagai persoalan sosial ekonomi yang dihadapi umat. Di antaranya: 540 kasus HIV, 430 kasus kekerasan dalam rumah tangga, 30 kasus perceraian, penurunan debit air gravitasi sebesar 44% akibat perubahan iklim, meningkatnya ketergantungan pada pinjaman berbunga tinggi, serta penurunan produksi beras sebesar 15,7% dan sayur hingga 60–80%.
Data ini bukan sekadar angka, melainkan cermin nyata pergumulan umat yang membutuhkan kehadiran Gereja secara konkret. Ia juga menyoroti persoalan lain seperti tingginya biaya hidup, pengeluaran rumah tangga yang sering lebih besar daripada pendapatan, meningkatnya biaya sosial, serta masih banyaknya usia produktif yang belum memiliki pekerjaan. Di sisi lain, kebutuhan sayur masih banyak dipasok dari luar daerah, padahal sektor ini memiliki potensi besar untuk meningkatkan pendapatan dan membuka lapangan kerja. Kekuatan utama umat sesungguhnya terletak pada ketersediaan lahan.
Rikard menegaskan bahwa sejak tahun 2019, PSE Paroki Ekaristi Kudus Ka Redong telah bekerja sama dengan berbagai pihak dalam pelayanan diakonia, antara lain KWI, jaringan masyarakat Katolik, KSP CU Florette, dan PSE Keuskupan Ruteng. Kerja sama ini telah menghasilkan bantuan nyata, seperti dukungan ternak bagi kelompok tani di wilayah Tuke serta akses permodalan agribisnis.
Seluruh karya tersebut merupakan wujud nyata dari sinodalitas—Gereja yang berjalan bersama, mendengarkan, dan bekerja sama dengan berbagai pihak demi menjawab persoalan umat secara konkret.
Dalam reksa pastoral tahun 2026, Paroki Ekaristi Kudus Ka Redong terus mengembangkan berbagai program yang relevan, seperti pelatihan bisnis dan pemasaran, literasi keuangan, serta pertanian organik berbasis karbon. Pelaksanaan program ini melibatkan berbagai pihak, antara lain pemerintah, KWI, PSE keuskupan, serta koperasi kredit.
Selain itu, terdapat usulan program baru dari Ibu Asumpta, antara lain penyuluhan kesehatan reproduksi bagi orang muda serta penanganan dan penyuluhan stunting. Ia menegaskan bahwa kasus stunting di wilayah paroki tergolong cukup tinggi, sehingga membutuhkan perhatian dan langkah konkret dari Gereja bersama para pihak terkait, termasuk pemeriksaan kesehatan bagi pasangan yang mengikuti Kursus Persiapan Perkawinan.
Salah satu umat, Ibu Esi, mengusulkan agar PSE bekerja sama dengan Dinas Pertanian untuk pengadaan benih sayur, kopi, serta peralatan pertanian bagi para petani di KBG-KBG yang menjadi sasaran program.
Rikard menyampaikan apresiasi atas usulan tersebut serta menegaskan bahwa semuanya akan ditindaklanjuti dalam pelaksanaan layanan pastoral. Program-program ini direncanakan akan dilaksanakan tahun ini dan segera diusulkan kepada para pemangku kepentingan, antara lain Dinas Kesehatan, DP2KB, BKKBN, KPAD Manggarai, dan Dinas Pertanian untuk mendapat dukungan.
Kunjungan pastoral ini menjadi momentum penting untuk meneguhkan kembali semangat sinodalitas di tengah umat. Dalam kebersamaan yang terjalin di rumah gendang, umat KBG Santo Markus Mena diingatkan bahwa Gereja yang hidup adalah Gereja yang berjalan bersama—bukan hanya dalam kata, tetapi dalam tindakan nyata di tengah kehidupan umat sehari-hari.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel




