Cepat, Lugas dan Berimbang

Refleksi HPN, AWAMB Giat Karitatif di Pelosok Mabar

Oplus_131072

Labuan Bajo, infopertama.com – Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 9 Februari 2026 di Manggarai Barat tidak hanya diwarnai seremoni dan potong tumpeng. Aliansi Wartawan Manggarai Barat (AWAMB) memilih merayakannya dengan aksi nyata: menyambangi sekolah dasar terpencil dan berbagi perlengkapan belajar bagi anak-anak yang membutuhkan.

Pada Rabu (11/2/2026), para wartawan turun langsung ke Desa Tiwu Nampar, Kecamatan Komodo. Dua sekolah menjadi sasaran kegiatan sosial tersebut, yakni SDK Kenari dan SDN Jati Makmur—sekolah yang berada di balik perbukitan dengan akses jalan yang masih memprihatinkan.

Puluhan siswa menyambut kedatangan rombongan dengan wajah sumringah. Buku tulis, bolpoin, mistar, penghapus, dan berbagai alat tulis lainnya diserahkan kepada pihak sekolah untuk kemudian dibagikan kepada para siswa. Bantuan itu mungkin sederhana, tetapi maknanya besar: simbol kepedulian insan pers terhadap pendidikan di wilayah yang belum sepenuhnya tersentuh pembangunan.

Ketua AWAMB, Alfonsius Andi, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial HPN, melainkan refleksi sosial atas realitas pendidikan di pelosok.

“Di Hari Pers Nasional ini kami dari Aliansi Wartawan Manggarai Barat melaksanakan pembagian buku tulis dan alat tulis kepada anak-anak di SDK Kenari dan SDN Jati Makmur. Harapan kami, bantuan ini bisa bermanfaat bagi anak-anak sekolah di sini,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Andi juga menyinggung tragedi yang terjadi di Kabupaten Ngada, di mana seorang siswa diduga mengakhiri hidupnya karena faktor ekonomi dan keterbatasan perlengkapan sekolah.

“Kami berharap tragedi yang terjadi di Kabupaten Ngada tidak pernah terjadi di Manggarai Barat. Jangan sampai ada anak yang kehilangan harapan hanya karena tidak punya alat tulis,” tegasnya.

Menurut Andi, pendidikan merupakan tanggung jawab bersama. Bukan hanya pemerintah, tetapi juga masyarakat dan seluruh elemen, termasuk pers, memiliki peran dalam memastikan anak-anak tetap memiliki harapan dan akses belajar yang layak.

Kegiatan tersebut turut didampingi jajaran Polsek Komodo. Kapolsek, Wakapolsek, dan sejumlah anggota hadir dalam penyerahan bantuan sebagai bentuk sinergi lintas sektor.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada Kapolsek Komodo dan seluruh jajaran yang bersama-sama menyerahkan bantuan di dua sekolah ini. Sinergitas ini harus terus berjalan, tidak hanya hari ini,” kata Andi.

Ia juga mengapresiasi para donatur dan rekan-rekan wartawan yang tetap solid mendukung kegiatan tersebut.

“Kekompakan ini bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk kegiatan sosial berikutnya demi meningkatkan mutu pendidikan di Manggarai Barat,” tambahnya.

Kepala SDK Kenari, Ambros Djelaman, yang diwakili guru Marselus, menyampaikan apresiasinya.

“Kami berterima kasih kepada Aliansi Wartawan Manggarai Barat. Ini merupakan hal pertama dan sangat luar biasa. Semoga pers Mabar selalu jaya,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Plt Kepala SDN Jati Makmur, Abdul Karim. Ia mengaku bantuan tersebut sangat berarti bagi siswa yang sebagian besar berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.

“Anak-anak sangat senang mendapat buku. Ini sangat membantu sekali. Kami berharap perhatian seperti ini terus berlanjut,” katanya.

Namun, di balik rasa syukur itu, Abdul Karim membuka realitas pahit yang dihadapi sekolahnya. Persoalan utama bukan hanya kekurangan alat tulis, melainkan akses jalan menuju sekolah yang sangat sulit dilalui.

“Jalan ke sekolah sangat memprihatinkan. Itu yang paling berat. Kami berharap bisa diperhatikan agar akses lebih lancar,” ungkapnya.

Selain itu, krisis air bersih masih menjadi masalah serius. Listrik memang sudah tersedia, tetapi air minum layak belum memadai. Kondisi bangunan pun belum sepenuhnya layak: dua ruang kelas mengalami kerusakan pada lantai dan dinding, namun tetap digunakan karena keterbatasan ruang.

Mantan Kepala SDN Jati Makmur, Maximus Madun Da Sales, mengenang perjuangan panjang berdirinya sekolah tersebut. Sekolah ini dirintis sejak 2001 bersama masyarakat, bahkan sebelum Manggarai Barat menjadi kabupaten definitif.

“Tahun 2001 kami bersama orang tua mengusulkan pendirian sekolah ke Dinas Pendidikan di Ruteng. Waktu itu belum ada Kabupaten Manggarai Barat. Perjuangannya panjang,” tuturnya.

Proses belajar mengajar dimulai sekitar 2002 sebagai kelas jauh dari SD induk, dan pada 2008 resmi berstatus SD Negeri.

Meski kini telah berdiri sebagai sekolah negeri, tantangan belum berakhir. Akses jalan sepanjang kurang lebih dua kilometer dari pertigaan menuju kampung dan sekolah masih menjadi hambatan utama.

“Harapan kami Pemda bisa membantu, baik jalan maupun air minum. Itu kebutuhan mendasar kami,” tegasnya.

Kegiatan AWAMB di Tiwu Nampar menghadirkan potret kontras: di satu sisi, geliat pembangunan pariwisata premium Labuan Bajo; di sisi lain, realitas pendidikan di pelosok yang masih berjuang dengan jalan rusak, ruang kelas retak, dan keterbatasan air bersih.

HPN 2026 di Manggarai Barat pun menjadi lebih dari sekadar perayaan kebebasan pers. Ia menjelma menjadi momentum untuk menyuarakan suara pinggiran—tentang anak-anak yang berjalan dua kilometer melewati jalan rusak, tentang ruang kelas yang lantainya hancur, dan tentang harapan sederhana: buku, air bersih, dan akses yang layak.

Di tengah segala keterbatasan itu, semangat belajar anak-anak Tiwu Nampar tetap menyala. Dan di Hari Pers Nasional tahun ini, buku-buku kecil yang dibagikan menjadi simbol bahwa harapan akan selalu ada, selama masih ada yang peduli dan mau turun langsung ke lapangan.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel