Senada juga oleh Feka Angge Pramita, Psikolog yang juga dari Ikatan Psikolog Klinis Indonesia. Feke menambahkan, mengizinkan (menerima) kehadiran emosi negatif memang hal yang cukup sulit. Salah satu penyebabnya adalah pola pengasuhan yang selalu melarang anak untuk menangis.
“Misalnya anaknya nangis, disuruh jangan nangis. Jadi perasaan negatif itu tidak diizinkan untuk ada. Pada saat dewasa, kita jadi kesulitan untuk mengelola regulasi diri kita, kesulitan mengelola stres kita,” ujar Feka.
“Jadi, akhirnya kalau sudah bertumpuk-tumpuk (stresnya) tentu akan kesulitan banget,” imbuhnya.
Feka juga mengatakan bahwa tak ada salahnya bagi para orang tua untuk mengakui perasaan negatifnya jika anak-anak melihat hal tersebut. Hal ini, kata dia, akan membuat anak belajar menghadapi konflik.
“Menurut saya enggak apa-apa, cuma memang perlu berhati-hati saat menyampaikan ada apa. Misalnya saat berantem sama papanya, hati-hati menggunakan kata berantem atau menceritakan keseluruhan tanpa memfilter, karena ia tentu tidak paham konteksnya,” kata Feka.
“Jadi kita sedih di depan anak itu enggak apa-apa karena nanti mereka akan melihat bahwa masalah itu bisa diatasi ya. Mereka kan sangat butuh proses itu,” pungkasnya.**
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel
Tinggalkan Balasan