Dari halaman gendang, aku—Rikard—tidak hanya menoleh ke belakang, tetapi juga memandang ke sisi timur Kampung Sekok. Hamparan perbukitan tampak indah, ditumbuhi cengkeh, kopi, kemiri, dan pohon mahoni. Semua tumbuh tegak, kokoh, dan hijau—menyimpan harapan masa depan bagi para pemiliknya, khususnya anggota KSP CU Florette.
Dalam sesi lejong, Rikard mengajak anggota yang hadir untuk kembali menyadari bahwa budaya menabung sebenarnya bukan hal baru bagi orang Manggarai. Berdasarkan sebuah dokumen dari perpustakaan Mgr. van Bekkum di Belanda, pada tahun 1939 rumah gendang telah menjadi tempat “menabung” dalam bentuk hasil panen seperti beras dan jagung. Setiap panen, sebagian hasil disisihkan untuk kebutuhan esok hari hingga musim panen berikutnya.
Apa yang dilakukan leluhur ini menunjukkan bahwa menabung pada dasarnya adalah kemampuan menyimpan nilai, tidak harus selalu dalam bentuk uang. Dalam konteks masyarakat Manggarai, beras dan jagung adalah bentuk tabungan nyata—yang menjaga ketahanan hidup sekaligus menjadi cadangan saat masa sulit. Ini juga mencerminkan cara hidup petani yang mengutamakan keberlanjutan dan kehati-hatian dalam menghadapi masa depan.
Rikard juga mendorong anggota untuk mulai menyusun dan menentukan anggaran pendapatan dan belanja keluarga (RABK). Ia menegaskan bahwa suami dan istri, dalam semangat berjalan bersama menuju kesejahteraan, perlu duduk bersama merencanakan keuangan keluarga. RABK menjadi alat kontrol sekaligus acuan agar tidak terjadi defisit, serta memastikan kondisi keuangan tetap aman.
Dalam pengeluaran, anggota diingatkan untuk mengutamakan kebutuhan, serta berhati-hati dalam membiayai urusan sosial. Di Manggarai, biaya sosial cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Konstruksi sosial ini di satu sisi sangat baik karena menjaga kohesi sosial, tetapi di sisi lain bisa menjadi beban finansial. Karena itu, pengeluaran sosial sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan, tanpa paksaan karena takut penilaian atau “hukuman” sosial dari masyarakat. Kesejahteraan keluarga tetap harus menjadi prioritas utama.
Dalam sesi berikutnya, Rian—manajer KSP CU Florette—melanjutkan dengan penjelasan yang sederhana namun mengena. Ia menegaskan bahwa menjadi anggota KSP CU Florette berarti memilih hidup dalam “rumah bersama” yang dirawat dengan rasa memiliki dan semangat saling menolong.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







