Cepat, Lugas dan Berimbang

Memperempuankan Bisnis

infopertama com – Sifat-sifat dan nilai-nilai yang bersifat jantan secara pasti mendorong seseorang mencapai kedudukan puncak, tetapi nilai-nilai yang bersifat kewanitaan, biasanya hanya mem-berikan kesempatan untuk bertahan pada posisi itu saja.

Pada umumnya perusahaan-perusahaan dikendalikan oleh pria dengan seorang pimpinan pria yang dominan, yang mottonya adalah: “Ikuti aku kalau tidak, awas saja!” Perusahaan-perusahaan seperti ini kini jumlahnya berkurang dengan cepat. Sama seperti seorang anak jagoan di sekolah, yang menjadi sangat terkenal saat kekuatan lebih dihormati ketimbang otak, namun kemudian akhirnya menjadi tidak disukai juga.

Pengutamaan kejantanan harus dimengerti oleh siapa saja yang bercita-cita menduduki jabatan puncak, tetapi sistem nilai-nilai kewanitaan kini jauh lebih baik untuk menjalankan perusahaan dengan lebih efisien, harmonis dan karena itu juga, menjadi lebih berhasil.

Pada tingkat tertinggi, sebuah penekanan akan nilai-nilai maskulin membawa pada persaingan kekuasaan di dalam tubuh perusahaan tersebut. Masing-masing pribadi ingin ‘menang sendiri ketika persetujuan tidak dapat tercapai. Inisiatif dan isyarat intuisi tidak mendapatkan tempat dalam usaha untuk pencapaian hasil kesepakatan walau kiat-kiat baru atau pendekatan pendekatan sampingan mungkin saja memungkinkan adanya pertumbuhan dan perkembangan baru. Nilai-nilai kewanitaan, sebaliknya, mendukung adanya kerja kelompok, kerja sama dan saling ketergantungan yang jauh lebih sesuai bagi strategi kemampuan dan sumber daya manusia perusahaan. Ini bukan berarti bahwa pria harus dikurangi atau seorang wanita harus bersikap seperti pria tetapi pria dan wanita harus saling mengerti bahwa sistem masing-masing jender sangat penting pada waktu-waktu yang berbeda untuk mendaki sampai ke puncak.

Bagaimana Menghadapi anak laki-laki

Di mana-mana anak laki-laki gagal di sekolah sehingga mereka harus bersekolah di tempat yang berbeda dengan anak perempuan. Di Barat, antara 80%-90% dari murid yang dikeluarkan dari sekolah adalah anak laki-laki. Hampir semua anak hiperaktif adalah anak laki-laki sedangkan keadaan ini jarang terlihat pada anak perempuan.

Jika anak laki-laki tidak menyukai pelajaran yang tidak cocok dengan susunan otaknya, mereka tidak akan meninggalkan mata pelajaran itu, namun mereka berhenti sekolah dan mengalihkan perhatiannya pada tindak kriminal di sekitar rumahnya.

Sementara anak perempuan dipuji karena kemampuan mereka untuk memecahkan kode-kode komputer sekolah sehingga mereka mendapatkan gambar-gambar porno dari Internet. Pada umumnya, anak laki-laki tidak berprestasi dalam beberapa mata pelajaran. Para tokoh panutan pria telah meninggalkan profesi mengajar dan di tingkat SD; wanita mendominasi jabatan guru, sedangkan para guru pria yang masih ada, mengganti jas dan dasi mereka dengan kardigan wol lembut.

Kompetisi telah diganti dengan kerja sama, mempelajari fakta-fakta telah diganti dengan bersikap tegas pada penderitaan dunia, guru-guru tukang perintah dilatih kembali untuk menjadi fasilitator yang lembut sehingga semuanya menjadi sangat penuh perhatian dan saling berbagi. Disiplin telah diganti dengan sikap manis, dan anak laki-laki tidak lagi memiliki tokoh panutan yang jantan.

Satu jawaban adalah memiliki sekolah dengan jender tunggal atau kelas dengan jender tunggal untuk mendorong tokoh panutan jantan kembali mengajar. Tidak menyatakan bahwa kembali ke masa lalu yang penuh kekerasan atau penggunaan batang rotan harus dibangkitkan kembali, namun anak laki-laki harus diajarkan nilai-nilai kehormatan, tenggang rasa dan kerja sama, mereka pun juga harus diperlihatkan otoritas, disiplin, persaingan dan tokoh panutan jantan. Memberikan sifat wanita pada dunia pendidikan telah memecah kelompok anak laki-laki menjadi dua bagian: jenis yang lembut dan jenis yang tidak mau disiplin, yang sok jagoan serta jenis yang dikeluarkan dari sekolah.

Tidak Ada Tokoh Panutan bagi Anak laki-laki

Tokoh panutan bagi anak perempuan banyak sekali. Mereka masih memperlihatkan sifat-sifat yang hangat, pandai berkomunikasi dan mendidik pada generasi yang lebih muda.

Sementara tokoh panutan wanita seperti model Elle Mac-Pherson, Barbara Sterisand, Hillary Clinton, mendiang Putri Diana dan Madonna selain semuanya memperlihatkan sifat-sifat maskulinnya seperti tegas dan mandiri secara seksual mereka juga memperlihatkan sisi wanita yang bersifat mendidik. Bahkan sang Wanita Besi, Margaret Thatcher, tidak memiliki masalah untuk memperlihatkan sisi femininnya ketika berhadapan dengan tragedi atau kematian.

Tetapi, bagi anak laki-laki, mereka kekurangan tokoh panutan. Tokoh-tokoh panutan dari masa lalu termasuk Clarke Gable, James Dean dan James Bond, yang selain semuanya memperlihatkan sifat-sifat maskulin klasik, mereka juga memperlihatkan sifat-sifat kesopanan, ketulusan, hormat pada wanita dan mau membela keluarga mereka atau teman jika dibutuhkan.

Namun sekarang tokoh-tokoh tersebut telah digantikan dengan Sylvester Satllone, Arnold Schwarzenegger, Bruce Willis dan Jean Claude Van Dame yang memerankan sifat-sifat pengguna kekerasan untuk menyelesaikan masalah mereka dan mengakibatkan kerusakan yang luar biasa pada milik orang lain; atau karakter cengeng seperti Hugh Grant yang lebih memperlihatkan sifat wanita daripada sifat pria. Empat dari lima guru sekolah dasar sekarang adalah wanita dan banyak anak perempuan yang dibesarkan sendirian oleh ibu tanpa ayah. Sehingga, sekarang seorang tokoh pria yang bersikap seperti seorang gentlemen yang masih membukakan pintu bagi wanita, dapat dituduh sebagai bersikap jenderis, chauvinis atau agresif.

Pahlawan Olah Raga

Banyak anak laki-laki tidak memiliki tokoh panutan pria yang lebih tua dalam kehidupan mereka dan ini telah memberikan jalan bagi tokoh panutan baru, yaitu pahlawan olah raga. Hampir selama 200 tahun tujuan dari olah raga ada dua: pertama, untuk memberikan kesempatan bagi pria usia muda untuk membakar testosteron mereka sehingga menguntungkan bagi seluruh komunitas. Kedua, untuk mengajarkan keterampilan hidup dan nilai-nilai yang membantu orang lain menjadi dewasa yang efektif. Pentingnya etika dan kejujuran, menjadi pemain regu yang baik dan semangat untuk meraih tujuan perseorangan dan regu diturunkan dari generasi ke generasi dan begitu selanjutnya.

Para pemain diajarkan untuk memperhatikan dan menghormati sesama pemain dan menganggap bahwa pemain lebih penting daripada permainan itu sendiri. Sejak tahun 1980-an, pada umumnya kegiatan olah raga telah menjadi dikendalikan oleh uang dan para pemain secara teratur menerima sejumlah uang pendukung bagi pelatihan kemampuan ruang mereka, yaitu memukul, menendang atau melemparkan sesuatu tepat pada sasaran. Kebanyakan cabang olah raga sekarang, permainan-permainan telah menjadi lebih penting dibandingkan dengan para pemainnya.

Di mana lagi kita bisa melihat luapan amarah yang dahsyat, kekerasan, agresi, egois, penghinaan, selain di lapangan olah raga?

Bagi generasi terdahulu olah raga digunakan untuk pengembangan karakter dan kesejahteraan para olahraga-wannya, dan ini merupakan keutamaan karena uang tidak pernah menjadi bahan pembicaraan. Kini, atlit ditinggalkan begitu saja di lapangan dalam keadaan tak berdaya, teraniaya, patah tulang, kehilangan semangat atau setengah mati ketika regu lainnya mendorongkan bola melewati batas dan semua orang mananggung akibatnya.

Setelah selesai pertandingan, di klub-klub dan hotel-hotel, orang-orang muda melihat tokoh-tokoh panutan mereka yang ternyata bersifat kasar, pemabuk parah dan tidak menghormati orang lain. Penyerangan terhadap wasit atau menggigit telinga lawan dianggap sebagai lelucon bagi para penggemar.

Fenomena dari pahlawan olah raga telah membawa beberapa tokoh panutan yang tidak bagus bagi para pemuda di bangsa yang tergila-gila dengan olah raga. Seperti bintang-bintang pop, mereka mungkin saja tidak ternama pada suatu hari namun pada suatu saat bisa dianggap sebagai dewa, bahkan mereka sering juga memberikan nasihat mentah, tidak berpengalaman bagi kaum muda yang mudah dibuat terkesan.

Para pahlawan olah raga dimanfaatkan untuk menjual segala jenis barang dan produk yang tak terbayangkan.

Banyak masyarakat dunia, terutama orang-orang muda sekarang ini percaya bahwa ukuran penghargaan sebagai pribadi dihubungkan dengan seberapa mahir mereka me-nendang bola atau membidik sasaran.

Masalahnya, sindrom pahlawan olah raga di Eropa tidak begitu gencar. Di Eropa, karena cuaca yang dingin, maka kebanyakan olah raga dilakukan di dalam ruangan, selain itu kegiatan kebudayaan juga digalakkan karena itulah, Beethoven merupakan tokoh terkenal di Eropa seperti halnya Michael Jordan atau David Beckham.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

Â