Pemerintah, kata Bupati Hery, akan terus mendorong penggunaan bibit bersertifikat, pengelolaan lahan secara ramah lingkungan, serta akses petani terhadap pasar yang adil. “Dengan varietas G2 ini, kita masuk ke rantai produksi benih. Ini bukan panen sekali langsung habis. Kita sedang bangun ekosistem pertanian. Dari G2 ke G3, lalu ke G4—dan dari situ, kita bisa bicara tentang ketahanan pangan yang sesungguhnya,” katanya.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Manggarai, Ferdi Ampur, mengungkapkan bahwa tahap awal program penanaman kentang ini menggunakan lahan seluas dua hektare dengan target 83.333 lubang tanam. Hingga saat ini, sudah ditanami seluas 3.915 meter persegi dengan 16.312 lubang tanam aktif. Ferdi menyebutkan bahwa setiap hektare berpotensi menghasilkan 4-6 ton kentang, sehingga total produksi bisa mencapai 8-12 ton. Varietas G2 yang digunakan merupakan benih bersertifikat yang akan dikembangkan menjadi G3 dan G4 untuk didistribusikan ke petani lokal. “Tujuannya bukan hanya panen, tapi membangun kemandirian benih lokal agar petani tidak tergantung dari luar,” kata Ferdi.
Program budidaya kentang ini melibatkan Kelompok Tani Agro Mandiri dan memberdayakan anak muda dengan teknologi modern seperti pupuk semi-organik dan irigasi sprinkler. Dinas Pertanian juga telah menyiapkan pestisida dan pengamat organisme tanaman pengganggu (POPT) untuk mengendalikan hama dan penyakit. Selain itu, kentang dapat ditanam dua kali setahun dengan umur panen sekitar dua bulan. “Konsep kita bahwa petani-petani milenial harus diberdayakan. Teknologi yang digunakan disini sangat lengkap, ada pupuk semi-organik yang dipakai. Untuk irigasi menggunakan teknologi irigasi yang baru di Manggarai, yaitu irigasi sprinkler,” ujarnya.


Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel
