
Sambil membantu istrinya, Wiji Thukul mulai menabalkan dirinya sebagai aktivis yang membantu para buruh. Ia selalu berada di garis depan setiap kali berdemonstrasi. Wiji Thukul kemudian bergabung dengan Partai Rakyat Demokratik. Dalam setiap orasinya, Wiji Thukul selalu membacakan puisi-puisinya yang bergelora mengobarkan perlawanan.
Wiji Thukul disebut menghilang pada 10 Februari 1998. Sejak tragedi pembantaian di kantor Partai Demokrasi Indonesia, 27 Juli 1996, Wiji Thukul berpindah-pindah tempat demi menghindari kejaran aparat. Dalam pelariannya, Wiji Thukul selalu menulis puisi-puisi perlawanannya. Sejak nyatakan hilang, Sipon selalu mencari keadilan dan menuntut kembalikan jasad suaminya.**
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel
