Ingatlah sikap seorang Lewi dan seorang imam, dalam perumpamaan Orang Samaria yang Baik (Lukas 10:25-37). Keduanya ‘ambil jalan lain dan melihat dari kejauhan orang yang terkapar setengah mati di pinggir jalan.’ Tubuh yang terkapar itu dihindari. Tak menarik dan hanya mengganggu rasa nyaman bagi si orang Lewi dan sang Imam.
Suara korban, jeritan sesama dalam tubuh terluka, “lapar, haus, orang asing, telanjang, sakit, dalam penjara” (cf Matius 25: 35-40), semuanya memelas menuju pancaindra serta hati nurani sesama. Harus kah kita, sebagai sesama, Gereja, menghindar? Tega mengambil jalan lain? Dan menatap sekilas dari seberang jalan dalam sikap ketakpedulian?
Dalam setiap Perayaan Ekaristi tetap terucap indah dan terdengar teduh di batin, “Terimalah dan makanlah kamu semua: Inilah TUBUH-KU, yang diserahkan bagimu.”
Dan saat komuni, terdengar lagi seruan, “Tubuh Kristus.” Dan yakin dijawab, “Amin!”
Iya, itulah, sekali lagi, Tubuh yang terluka, yang memar, yang dilucuti pakaiannya, yang dimahkotai duri, yang berseru Aku haus. Kita siap bersatu dan selalu berada di pihak yang terluka dan terzalimi.
Sekiranya ‘alur hati kita tetap saja jauh dan menjauh dari saudara-saudari yang tak tentu nasibnya, maka segeralah merenung dan berubah setelah menerima Tubuh Tuhan.’
Teringatlah lagi akan Perayaan Sambut Baru. Iya, Komuni Pertama itu. Keramaian di daerah tertentu sudah tak terhindar. Serba mewah penuh semarak. Tak hanya persiapan hati, spiritual yang digalakkan, terkadang persiapan fisik, pestawi pun ‘tak mau kalah gertak. Musik ria tempias sepanjang malam bisa saja terjadi.’ Tentu si putra atau si putri pada hari H Sambut Baru mesti disalonkan. Dan orangtua pun tak mau ketinggalkan. Ini semua demi tampilan yang bukan sembarang.
Bagaimana pun selalu ada harapan penuh iman, bahwa si putra atau si putri itu untuk pertama kali bersatu secara sakramental dan spiritual sungguh bersatu dengan Yesus, dalam Tubuh dan Darah penuh derita. Iya, dengan Yesus yang tersalibkan.
“Dengar-dengar bahwa ada kiat pastoral agar Perayaan Sambut Baru itu luput dari kemewahan yang tak makan anggaran tak terkendali. Biarlah anak-anak, si putra atau si putri itu mengalami ‘kehadiran Yesus dalam sesama yang tak tentu dan tak beruntung nasibnya.’ Dan sekiranya itulah ungkapan atau tanda nyata keberpihakan, belarasa, solidaritas dan belaskasih dari dan kepada Yesus Tuhan yang sungguh berbelaskasih….
Verbo Dei Amorem Spiranti
Collegio San Pietro – Roma
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel






