Di lahan yang ia kelola saat ini, potensi produksi buncis—melihat pertumbuhan buncis dan kacang panjang yang tampak subur—diperkirakan mencapai dua ton dalam satu musim tanam, dengan durasi tanam hingga panen sekitar satu setengah bulan.
Buncis dijadwalkan mulai dipanen pada minggu kedua Desember 2025. Jika harga jual berada di kisaran Rp10.000 per kilogram, dua ton produksi berarti pendapatan sekitar Rp20 juta dalam satu musim tanam.
Modal usaha buncis ini ia peroleh dari KSP CU Florette melalui pinjaman dengan bunga rendah, yakni suku bunga yang lebih kecil dibandingkan lembaga keuangan komersial, sehingga cicilan lebih ringan dan tidak membebani arus kas usahanya.
Kemudahan mendapatkan modal ini menjadi nyata karena ia adalah anggota aktif koperasi; ia rajin menabung sehingga mendapatkan kepercayaan penuh.
Endik berencana menyimpan hasil penjualan buncis pada simpanan non-saham KSP CU Florette agar suatu waktu mimpinya memiliki fasilitas kendaraan untuk memperlancar pemasaran sayurannya dapat terwujud.
Di tengah cuaca mendung siang itu, Endik kembali memeriksa tanaman buncisnya. Setiap langkah dan gerakannya menunjukkan keyakinan bahwa apa yang ia lakukan hari ini adalah investasi untuk masa depan.
Di Pelus, seorang anak muda memilih jalan yang tidak selalu dianggap mudah: bertani. Namun dari kebun sederhana itu, harapan dan perubahan perlahan tumbuh—menghijaukan kembali tanah, dan mungkin, masa depan pertanian Manggarai.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel




