Cepat, Lugas dan Berimbang

Endik dan Harapan Baru dari Pelus: Ketika Anak Muda Memilih Menanam Masa Depan

Disiplin menjadi fondasi penting dalam perjalanan usahanya. Endik bekerja sejak pagi hingga sore, bahkan sering kali meneruskan pekerjaan hingga malam hari untuk memantau perkembangan tanaman—terutama guna mencegah serangan hama yang dapat merusak pertumbuhan dan kualitas buah.

“Ini cara saya memastikan sayuran yang dihasilkan betul-betul berkualitas,” tuturnya.

Total lahan yang dikelolanya kini mencapai setengah hektare. Tantangan terbesar muncul pada musim kemarau ketika pasokan air menipis. Sumber air berada jauh dan posisinya lebih rendah dari lahan, sehingga penyiraman menjadi pekerjaan berat.

Menghadapi keadaan itu, Endik berencana mengajukan dukungan kepada Pemerintah Kabupaten Manggarai dalam hal ini Dinas Pertanian untuk pembangunan sumur bor atau penggunaan mesin pengisap air. Saat musim hujan, ia memanfaatkan terpal bantuan Yayasan Ayo Indonesia untuk menampung air hujan sebagai cadangan.

Masa Depan yang Cerah

Endik tinggal bersama kedua orang tuanya dan seorang adik laki-laki. Ia menyimpan ambisi mulia: melalui usaha sayurannya, ia ingin membantu ekonomi keluarga, terutama agar adiknya bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi tahun depan.

“Apa pun tantangan atau persoalan, saya harus tetap gas! Tantangan itu ujian, bukan penghalang,” ungkapnya penuh keyakinan dalam pertemuan lejong bersama Direktur dan staf Yayasan Ayo Indonesia pada Jumat, 5 Desember 2025.

Tarsisius Hurmali, Direktur Yayasan Ayo Indonesia, mengingatkan Endik dan teman-temannya agar semangat berbisnis tidak hanya hangat di awal lalu redup kemudian. Dalam bahasa Manggarai, ia menyebutnya sebagai neka neho rawuk kolang—panas hanya di awal, lalu dingin dan berhenti di tengah jalan.

“Kamu harus tetap konsisten, tangguh, dan terus belajar. Jangan lupa mendorong orang muda yang lain untuk maju bersama,” pesan Tarsi dalam pertemuan lejong tersebut.

Menurut Endik, keputusannya pulang ke kampung sangat masuk akal. Lahan masih tersedia luas, orang tua memberi dukungan penuh, koperasi menyediakan akses permodalan, dan peluang pasar sayuran di Manggarai sangat tinggi. Meski pasar lokal masih didominasi sayuran impor, keyakinannya tetap kuat.

“Suatu saat, orang muda Manggarai pasti bisa jadi pemain utama, jadi petani produsen sayuran,” ujarnya optimis.

Potensi Besar di Masa Depan

Komunitas agribisnis muda Lako Cama Cama pun semakin mantap mendorong anak muda lainnya untuk terjun ke agribisnis. Mereka berbagi pengalaman, saling menguatkan, dan membangun keyakinan bahwa bertani bukan sekadar pekerjaan tradisional, tetapi pilihan masa depan.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel