Cepat, Lugas dan Berimbang

Diduga Air Tercemar Akan jadi Suguhan Dua Hotel Berbintang di Labuan Bajo ke Tamu KTT ASEAN

Mata Air Kemiri

Di dalam lubang yang menyerupai sumur tersebut, tampak puluhan bahkan mungkin ratusan pipa terpasang yang disambungkan dengan mesin pemompa air yang berada di luar. Hal ini guna mengalirkan air tersebut ke beberapa tempat termasuk ke empat hotel dan penginapan yang ada di Labuan Bajo, yakni hotel La prima, Bintang Flores, Pagi dan New Bajo Beach. Kedua hotel yang disebutkan di awal adalah hotel berbintang.

Untuk mendapatkan kepastian terkait hal ini, awak media pun mendatangi managemen dari hotel-hotel tersebut. Managemen hotel Pagi dan Bintang Flores mengakui bahwa sejak lama mereka telah menggunakan air dari Air Kemiri untuk macam-macam kebutuhan hotel, kecuali untuk minum dan memasak.

“Sejak berdirinya hotel ini, kami sudah pakai itu air pak, untuk seluruh keperluan hotel, seperti mandi dan untuk bersih- bersih. Tapi untuk minum, masak dan cuci, tidak pakai itu air. Kami cucinya bukan di sini,” ujar Helmi, salah seorang staf Hotel Pagi.

Hal senada juga dikatakan Arnol, staf hotel Bintang Flores, bahwa, “Sejak tahun 2008 air tersebut kami gunakan untuk macam-macam kebutuhan di hotel, kecuali untuk masak dan minum”.

Terkait jaminan akan kebersihan dari air yang digunakan tersebut, mengingat letak mata air yang langsung berada dalam badan sungai yang tercemar, Arnol berujar bahwa, “Di situ kan ada filter air. Dan, setiap tahun dinas kesehatan selalu melakukan pengecekan.”

Suara dari Ruang Publik

Pemanfaatan air dari mata air sungai Air Kemiri oleh beberapa hotel memunculkan berbagai reaksi dari ruang publik.

Marsel Jeramun, wakil ketua DPRD Kab. Mabar angkat bicara. Saat diminta pendapatnya, kepada awak media ini beliau mengatakan, ” hal ini perlu segera ditanggapi serius oleh Pemerintah. Mengingat, dalam beberapa hari ke depan ASEAN Summit akan diselenggarakan di Labuan Bajo. Kalau sampai ada tamu manca negara yang gatal-gatal atau mengalami iritasi karena mandi menggunakan air tersebut, tentu kita semua yang akan malu,” ujarnya.

Meskipun pihak hotel berdalih bahwa air yang digunakan telah melewati proses penyaringan, lanjut Marsel, “Tetapi siapa yang bisa menjamin bahwa air tersebut benar- benar aman untuk digunakan tamu hotel. Oleh karena ini saya akan meminta Dinas Kesehatan untuk secepatnya melakukan inspeksi, baik di sumber mata air maupun di hotel,” tandas wakil ketua DPRD Mabar ini.

Lebih jauh, Marsel yang juga merupakan ketua DPD PAN Mabar, meminta kepada pihak hotel untuk menggunakan air yang disalurkan Oleh Perumda Wae Mbeliling.

“Sebaiknya pihak hotel manfaatkan air dari Perumda (Wae Mbeliling) saja, selain kebersihannya lebih terjamin, juga turut berkontribusi pada peningkatan PAD mabar,” pinta Marsel.

Dari tempat berbeda, Jon Kadis, warga Labuan Bajo, meminta kepada Pemda untuk segera bertindak. “Pemda Mabar harus segera mengambil tindakan tegas. Larang mereka menggunakan air tersebut untuk kebutuhan hotel. Sungai itu (Air kemiri) pasti sudah tercemar. Bukan hanya limbah rumah tangga saja yang dibuang ke sungai tersebut. Ada juga sampah plastik, bangkai hewan bahkan pembuangan dari kakus warga banyak yang disalurkan ke sungai tersebut,” ujarnya.

“Tidak mungkin mata air yang berada di dalam sungai itu tidak turut tercemar. Saya tidak yakin alat penyaring air yang digunakan pihak hotel akan mampu membunuh bakteri. Dan, zat berbahaya lain yang ada,” imbuh Jon Kadis yang juga berprofesi sebagai seorang Lawyer.

Pemanfaatan air dari mata Air kemiri oleh beberapa hotel memang merisaukan banyak pihak, terutama dalam moment ASEAN Summit ini. Kerisauan ini muncul karena satu alasan, yakni menjaga citra Labuan Bajo sebagai kota destinasi pariwisata super premium.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel