Bupati Manggarai Tegaskan Kebijakan Bencana Harus Berbasis Data Rasional, Bukan Ikut-ikutan

BMKG mencatat bahwa sejak gempa utama berkekuatan Magnitudo M 7,1 pada 15 Agustus 2026 lalu, telah terjadi 18.670 kali gempa susulan dengan magnitudo berkisar antara M 0,9 hingga M 6,2. Dari puluhan ribu getaran tersebut, sebanyak 205 kejadian dapat dirasakan oleh masyarakat.

Grafik pemantauan BMKG menunjukkan tren penurunan frekuensi gempa susulan secara konsisten dari minggu ke minggu:

* Minggu ke-1: 5.011 kejadian

* Minggu ke-2: 4.267 kejadian

* Minggu ke-3: 3.153 kejadian

* Minggu ke-4: 2.421 kejadian

* Minggu ke-5: 1.750 kejadian

* Minggu ke-6: 1.743 kejadian

“Secara statistik, rangkaian gempa susulan telah menunjukkan fase peluruhan yang konsisten. Kejadian gempa signifikan dengan magnitudo di atas 5,0 hanya tercatat 33 kali atau sekitar 0,18% dari total keseluruhan,” jelas Dinda.

BMKG menggarisbawahi bahwa peluruhan ini merupakan pola kecenderungan statistik alamiah dan bukan hitungan mundur menuju hari tanpa gempa. Gempa skala kecil hingga sedang diproyeksikan masih akan terjadi dalam rentang waktu 6 hingga 7 minggu sejak gempa utama.

Menangkal Isu Liar dan Poin Imbauan Resmi

Mengantisipasi maraknya simpang siur informasi di masyarakat, Bupati Manggarai menyinggung fenomena bermunculannya spekulasi yang menggabungkan analisis ilmiah dengan asumsi tak berdasar.

“Di saat-saat seperti ini, banyak orang mendadak mengaku ahli dan bicara ke mana-mana, mengawinkan ilmu alam dan ilmu gaib. Maksud kita berhati-hati adalah agar masyarakat tidak terpengaruh isu-isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan,” tutur Bupati.

Pemerintah Kabupaten Manggarai bersama BMKG menyepakati sejumlah poin imbauan resmi bagi masyarakat:

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel