Cepat, Lugas dan Berimbang

Fitness Centre -Salon Kecantikan dan Kisah Komuni Pertama

(sekadar satu perenungan)

Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tanganKu, ulurkanlah tanganmu dan cucukanlah ke dalam lambungKu…
(Yesus kepada Thomas)
Yohanes 20:27

Kons Beo, SVD

infopertama.com – Siapakah yang tak sayang akan tubuhnya sendiri? Tidakkah, agar tubuh terlihat tegap, kokoh, padat berotot, kekar, maka orang tentu mesti rajin ke Gym? Di tempat itu ada serangkaian paduan aktivitas ‘pengototan fisik.’ Iya, Gym itu adalah tempat di mana fitness centre dipraktekkan.

Selain Gym dengan fitness centre-nya ada lagi salon kecantikan. Di situ, alur tubuh dirias jadi molek bestari. Untaian rambut, alis mata, atau segala ini itu ditata rapih setelitinya. Sebab, seseorang, katakan kaum hawa pada umumnya mesti terlihat aduhai penuh pesona ‘yang tidak ada obat memang.’ Siapa yang tak ingin terlihat atraktif berdaya pikat?

Tentu, demi tampilan fisik yang serba meyakinkan itu, duit yang mesti digelontorkan itu ‘tak maen-maen. Bukan sembarangan.’ Semua detailnya itu selangit biayanya. Oh iya, yang punya jadwal tetap ke salon itu, katanya, bukanlah insan dari kalangan ekonomi seret, lelet tertati-tati. Bukan! Tidak juga dari kelompok orang dengan menu harian di bawah standar. Sebab, ada ‘hukum nutrisi’ demi bentuk tubuh yang mesti ditaati. Demi kebugaran, keindahan dan terlihat padat berotot itu.

Mari tinggalkan dulu Gym, Fitness Centre dan Salon kecantikan. Beralihlah kita ke rumah tempat Para Rasul berkumpul setelah peristiwa Kebangkitan Yesus. Yesus memakai rumah itu sebagai area penampakan atau tampilanNya di hadapan para muridNya.

Yang diperlihatkan Yesus bagi para muridNya itu adalah tangan dan lambungNya. Malah, delapan hari sesudahnya, kepada Thomas yang penuh ragu itu, Yesus mendesak, “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tanganKu, ulurkanlah tanganmu dan cucuklah ke dalam lambungKu…” (Yohanes 20:27).

Tubuh yang diperlihatkan Yesus, bila direnung acak-acakan, adalah sebentuk rupa anti alam Gym dengan Fitness Centre-nya, atau Tubuh kontra alam salon kecantikan – keindahan. Tak ada raga nan elok rupawan yang diperlihatkan Yesus. Tak ada praktek adakadabra setelah kebangkitan, bahwa TubuhNya telah tampak anggun dan tampan. Tak ada. Tetap ada memar di tubuh dan masih terdapat bekas paku pada tangan. Pun terlihat nyata lambung terluka dalam yang ditembus tombak kebengisan.

Dan?

Thomas pun mesti menyentuh, dan ‘bersatu dengan dan ke dalam Tubuh yang tetap terluka itu.’ Yesus yang bangkit tetaplah Yesus yang menderita dan telah lewati kematian yang mengerikan. Ternyata Yesus yang tetap teraniaya dan terluka itu hadir nyata dalam saudara-saudari dan kemanusiaan yang terluka.

Kepada Saulus yang berkobar-kobar untuk mengejar dan membunuh murid-murid Tuhan, ada suara dari Langit yang berseru, “Akulah Yesus yang kau aniaya” (cf Kisah Para Rasul 9:4-5). Yesus yang tetap terluka itulah saudara-saudari yang terzalimi, teraniaya, yang tertekan oleh varian tidak kekerasan, oleh praktik ketidakadilan, diskriminasi dan intoleran.

Kembali kisah Thomas.
Dan persis di alam suasana terluka itulah suara Yesus bagi Thomas mesti ternyatakan: ‘rabahlah, sentuhlah, masukan jarimu, mendekatlah, dan terlibatlah dalam memerangi alam derita penuh pilu ini.’

Jika harus menyimak kata-kata agung Yesus dalam Perjamuan Akhir, “Terimalah dan makanlah kamu semua, inilah TubuhKu yang diserahkan bagi kamu,” maka para murid, Gereja, kita sekalian, tak hanya siap untuk diteguhkan oleh Santapan Rohani Tubuh dan Darah Tuhan. Tetapi juga, lebih dari itu, semua siap dan rindu bersatu dengan Yesus, Tubuh yang menderita dan tersalibkan!

Rolheiser (Seeking Spirituality), lebih dari tiga puluh tahun silam, jelaskan dua kata Yunani mengenai tubuh, daging. Itulah Soma dan Sarx. Soma itu tubuh, daging dalam konotasi positif. Kita rindu dan tertarik akan tubuh yang sehat, indah, kuat. Iya, Soma itu. Tetapi, sebaliknya, kita takut, cemas, tak tertarik, akan tubuh yang sakit, memar dan terluka, yang tak elok dipandang.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN