Cepat, Lugas dan Berimbang

Evolusi Nyinyir Emak-Emak: Mengubah Kolom Komentar jadi Arena Perang

infopertama.com – Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, termasuk bagi para ibu rumah tangga atau yang akrab disebut emak-emak. Awalnya, media sosial dimanfaatkan sebagai sarana silaturahmi, berbagi informasi keluarga, hingga tempat saling menguatkan.

Namun seiring waktu, ruang digital ini juga mengalami pergeseran fungsi. Dari yang semula privat dan terbatas seperti grup WhatsApp, kini berkembang ke ruang publik yang lebih luas seperti TikTok, Facebook, dan Instagram. Bersamaan dengan itu, muncul fenomena “nyinyir” yang tak jarang memicu konflik, viralitas negatif, bahkan masalah sosial.

Narasi ini tidak bertujuan menyudutkan, melainkan mengajak memahami perubahan perilaku digital emak-emak secara kritis dan edukatif.

1. Grup WhatsApp: Awal Mula Ruang Nyaman

Grup WhatsApp keluarga, arisan, atau sekolah anak awalnya menjadi ruang aman untuk berbagi kabar. Di sinilah emak-emak bebas mengekspresikan opini tanpa takut dilihat publik luas. Namun, karena minimnya literasi digital, obrolan sering kali bergeser menjadi gosip, asumsi, hingga penyebaran informasi yang belum tentu benar. Nyinyir muncul sebagai bentuk ekspresi emosi, solidaritas kelompok, dan kebutuhan untuk diakui.

2. Dari Privat ke Publik: Perpindahan ke Media Sosial Terbuka

Masuknya emak-emak ke platform seperti TikTok menandai perubahan besar. Jika di grup WA komentar hanya dibaca puluhan orang, di TikTok bisa disaksikan jutaan pasang mata.

Sayangnya, kebiasaan lama terbawa ke ruang baru. Komentar pedas, reaksi berlebihan, dan penghakiman terbuka menjadi konsumsi publik. Algoritma media sosial yang menyukai interaksi tinggi justru memperkuat perilaku ini dengan menaikkan konten kontroversial.

3. Nyinyir sebagai Hiburan dan Identitas

Bagi sebagian emak-emak, berkomentar nyinyir bukan sekadar reaksi, tetapi hiburan. Ada kepuasan emosional saat komentar mendapat banyak like atau dibalas. Perlahan, nyinyir berubah menjadi identitas digital: dikenal galak, vokal, dan “jujur”. Tanpa disadari, batas antara kritik dan perundungan menjadi kabur.

4. Dampak Sosial yang Tidak Sepele

Nyinyir yang viral bisa berdampak serius. Mulai dari rusaknya reputasi seseorang, konflik antarindividu, hingga masalah hukum. Anak-anak pun ikut terdampak karena melihat contoh komunikasi yang kasar di ruang digital. Di sisi lain, emak-emak sendiri kerap menjadi korban balik berupa hujatan, stres, dan kecanduan media sosial.

5. Akar Masalah: Emosi, Tekanan, dan Literasi Digital

Fenomena ini tidak muncul begitu saja. Banyak emak-emak menghadapi tekanan ekonomi, peran ganda, dan minim ruang aktualisasi. Media sosial menjadi pelarian emosi. Tanpa literasi digital yang memadai -tentang etika berkomentar, verifikasi informasi, dan dampak jejak digital-ekspresi emosi mudah berubah menjadi nyinyir yang merugikan.

6. Edukasi Digital: Dari Nyinyir ke Bijak

Solusinya bukan melarang emak-emak bermedia sosial, melainkan membekali.

Edukasi literasi digital perlu menyasar ibu-ibu secara inklusif dan praktis. Mengajarkan jeda sebelum berkomentar, membedakan opini dan fakta, serta menyadari bahwa setiap unggahan memiliki konsekuensi. Media sosial seharusnya menjadi ruang berbagi nilai positif, bukan pelampiasan emosi.

Evolusi dari grup WA ke TikTok menunjukkan bahwa perubahan teknologi selalu diikuti perubahan perilaku. Nyinyir emak-emak bukan sekadar fenomena lucu atau memalukan, melainkan cermin dinamika sosial di era digital. Dengan pendekatan edukatif dan empati, perilaku ini bisa diarahkan menjadi kekuatan positif.

Emak-emak memiliki potensi besar sebagai agen literasi, penyebar nilai, dan teladan komunikasi sehat di dunia maya. Kuncinya bukan pada platformnya, tetapi pada kesadaran dan kebijaksanaan penggunanya.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

Â