Cepat, Lugas dan Berimbang

Endik dan Harapan Baru dari Pelus: Ketika Anak Muda Memilih Menanam Masa Depan

infopertama.com – Siang itu, dalam cuaca mendung dengan suhu udara yang agak panas, Fransiskus Frediola Tanjang, atau yang akrab disapa Endik, melangkahkan kaki tanpa sandal menuju kebun buncisnya.

Berkaos merah—warna kesukaannya—ia menyusuri pematang tanah pod solik merah kuning  yang mulai mengering. Embun pagi yang  biasanya menempel pada permukaan daun buncis memang sudah lenyap, kelembapan udara terasa rendah, namun deretan tanaman buncis tetap tampak segar. Buah-buah buncis yang panjang menggantung di tangkai, seolah menunggu untuk segera dipetik selagi masih muda.

Membangun Masa Depan dengan Bertani

Endik berdiri di antara tanaman itu. Tangan kanannya menggenggam sebatang buncis yang bernas dan memanjang, sementara senyum sumringah merekah di wajahnya—senyum seorang petani muda yang melihat kerja kerasnya mulai berbuah.

Endik, 25 tahun, adalah salah satu anggota komunitas agribisnis muda Lako Cama Cama. Ia tinggal di Pelus, Desa Lentang, Kecamatan Lelak, Kabupaten Manggarai. Di tangan anak muda ini, lahan yang dulunya hanya menjadi tanah tidur dan miskin unsur hara, kini berubah menjadi hamparan subur tempat buncis dan kacang panjang tumbuh dengan kuat—buah dari ketekunan dan kegigihannya.

Berbekal pengetahuan dan pengalaman dalam budidaya sayuran, ia berhasil memperbaiki kualitas tanah dengan pupuk organik berbahan karbon. Untuk mendukung pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman, ia menggunakan pupuk daun dalam dosis yang aman. Perlahan namun pasti, lahan yang dulunya kritis kini berubah menjadi lahan produktif.

Pertanian sebagai Pilihan Masa Depan

Keputusan Endik untuk kembali ke kampung halamannya tidak lahir begitu saja. Saat masih menempuh pendidikan di Politeknik Pertanian Negeri Kupang, ia bekerja selama enam bulan di Panti Asuhan Bhakti Budiluhur Baumata yang dikelola oleh Kongregasi Biara ALMA.

Di tempat itu, ia terlibat langsung dalam usaha budidaya sayuran yang dikelola secara profesional untuk tujuan bisnis dan memenuhi kebutuhan sayuran bergizi dari anak-anak panti asuhan. Pengalaman tersebut membuka matanya tentang besarnya potensi usaha hortikultura.

“Saya lihat sendiri, kalau fokus, usaha sayur itu sangat menjanjikan,” ujarnya. Berbekal keyakinan dan keterampilan yang ia peroleh, Endik pun memutuskan kembali ke Pelus untuk membangun usaha pertaniannya sendiri.

Kisah Sukses Endik, Petani Muda yang Berani Bermimpi

Untuk mewujudkan mimpinya mencapai kecukupan finansial melalui usaha sayuran, Endik pun menyusun strategi yang matang. Ia menjadi anggota aktif Koperasi Simpan Pinjam guna memperoleh akses modal bagi pengembangan usaha serta perlindungan finansial masa depan.

Selain itu, bersama teman-temannya di komunitas agribisnis muda Lako Cama Cama, ia mulai menjalin jejaring dengan para distributor sayuran di Pasar Ruteng dan Labuan Bajo untuk memastikan pasar yang lebih luas bagi hasil panennya.

Menurut Endik, Yayasan Ayo Indonesia melalui karya pastoralnya—yang didukung oleh Missionsprokur SVD (Steyler Missionare) di Swiss—telah memberikan peran besar dalam meningkatkan kepercayaan diri orang muda LC untuk beragribisnis. Dukungan itu hadir dalam bentuk pelatihan melek keuangan, kunjungan lejong untuk motivasi bisnis, serta kunjungan belajar kepada para petani yang telah sukses.

Menghadapi Tantangan dengan Optimis

Kini, ia bersama komunitas LC tengah menjajaki dukungan dari lembaga lain untuk mempelajari smart farming, pendekatan pertanian presisi yang sangat relevan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel